Mai Ita Hamutuk Hodi Hader Rai Belu —-"Bersaudara itu sungguh Indah"

GambarJAKARTA – Tidak seperti biasanya, tribun di lapangan Atang Kopassus Cijantung Jakarta sore ini (Sabtu 10 Nov) diwarnai emosi dan dendam para supporter tim Belu dan Persena A (Nagekeo).

Tepat pukul 4 sore kick off pertandingan antara kedua tim ini dilakukan suasana di tribun langsung memanas karena kapten tim Persena A dengan nomor punggung 19 berhasil membobol gawang anak-anak Belu pada menit pertama, gol tercepat sepanjang sejarah turnamen Ngada Cup di Jakarta.

Suporter di tribun berteriak dan melompat menyambut gol cepat itu sementara suporter Belu diam tak bergeming.

Anak-anak Belu seperti baru bangun dari tidur, mereka belum fokus. Padahal penampilan tim Belu, untuk kali kedua ini, lebih hebat dengan masuknya beberapa pemain baru.

Dari luar lapangan, anak-anak Belu memang telah didoktrin harus memenangkan laga versus Persena A karena mereka telah menelan kekalahan dari tim Golewa B (Ngada) pada pertandingan sebelumnya.

Peluang manis tercipta bagi Belu di menit ke 18 ketika striker tercepat dengan nomor punggung 9 diganjar oleh pemain belakang Persena A di kotak pinalti. Namun sayang, pemain Belu dengan nomor punggung 2 gagal mengeksekusi menjadi gol karena bola mengenai mistar gawang.

Setelah berkali-kali menekan, striker Belu dengan nomor punggung 9 akhirnya berhasil membobol gawang Persena A pada menit ke 30. Giliran suporter Belu menyambut gol dengan teriakan keras dan bergoyang di pinggir lapangan dan tribun.

GambarSalah satu manajer Belu beraksi memamerkan segepok uang kertas seratus ribu, sebuah cara unik memompa semangat anak-anak Belu di dalam lapangan. Uang itu memang disiapkan bagi pemain jika berhasil memenangkan pertarungan atas Persena A, pertarungan untuk sebuah balas dendam, membalas cemoohan dengan cemoohan.

Perseteruan antar suporter pun tak terbendung. Suasana di luar lapangan terasa lebih panas ketimbangan sengitnya pertaruhan bola di dalam lapangan. Tim keamanan dari Kopassus berdiri siaga di pinggir lapangan.

Babak pertama usai, salah satu pemain Belu menari disco di depan suporter Persena A seiring dengan dentuman musik disco yang disuguhkan bung opereter. Perang urat saraf tidak berhenti meski pertandingan diistirahatkan. Wajah-wajah suporter Persena A tampak merah karena dendam sedang membara di hati.

Tak lama, dendam dan emosi suporter Persena A akhirnya tuntas karena di luar dugaan kapten Persena A dengan nomor punggung 19 langsung merobek gawang Belu pada menit pertama babak kedua. Skor 2-1 untuk Persena A di papan skor depan tribun membuat suporter Belu tertegun dan mungkin bertanya ‘mengapa gol ke gawang Belu demikian cepat terjadi? Pertanda Persena A akan keluar sebagai pemenang?”

Tidak tahu persis apa yang sedang terlintas di benak suporter Belu. Yang bisa dilihat, suporter Belu tetap semangat, ceria, dan bergoyang karena musik non stop menghibur.

Malapetaka kemudian membuyarkan harapan suporter Persena A ketika pemain libero Persena A dengan nomor punggung 6 diganjar kartu merah oleh wasit karena menyelamatkan bola dari gawang dengan tangan kirinya.

Suporter Persena A mulai cemas karena kehilangan satu pemain jangkar di barisan pertahanan membuat tekanan oleh penyerang Belu makin hebat.

Untuk sesaat suporter Persena A masih bernapas lega karena hadiah pinalti gagal dimanfaatkan menjadi gol oleh pemain Belu dengan nomor punggung 18. Tendangan penuh emosi melesakkan bola jauh di atas mistar gawang Persena A.

Tak lama berselang, bola shooting dari kaki pemain Belu dengan nomor punggung 7 hanya membentur tiang gawang Persena A, tidak berbuah gol.

Salah satu nona Belu menarik perhatian penonton di tribun dengan bergoyang saat bung opereter menyuguhkan lagu berirama house music. Dia cuek bergoyang meski suporter Persena A di tribun meneriakinya.

Sementara di dalam lapangan, anak-anak Belu terus memberi tekanan secara bertubi-tubi. Penjaga gawang Persena A tampil gemilang dan menghalau sekitar empat peluang gol bagi Belu.

Defisit satu pemain akibat diganjar kartu merah oleh wasit, pertandingan praktis dikuasai anak-anak Belu. Barisan pertahanan belakang Persena A mulai frustrasi. Dan pelanggaran pun tak terhindarkan. Persis terjadi di luar daerah 16. Giliran kapten Belu dengan nomor punggung 18 berhasil membobol gawang Persena dari tendangan bola mati itu. Skor berubah jadi 2-2.

Anak-anak dari kabupaten dekat perbatasan dengan Timor Leste ini bertambah semangat dan menambah tekanan. Perjuangan mereka pun berhasil karena pada menit ke 88 pemain Belu dengan nomor punggung 6 melakukan solo run dan shooting bola ke gawang Persena A dan berbuah gol. Skor 3-2 bagi Belu tidak berubah hingga pertandingan usai.

Anak-anak Belu kemudian disambut para suporternya, lebih banyak nona-nona, dan mereka berpelukan mesra di pinggir lapangan dekat tribun. Suporter Persena A langsung bergegas meninggalkan lapangan sementara sebagian duduk sambil menunduk untuk menyembunyikan keluarnya air mata, ungkapan hati yang kecewa.

Apapun itu, laga Belu vs Persena A adalah laga yang paling menyedot emosi penonton sekaligus terbaik dan dramatis dibanding laga-laga sebelumnya di event Ngada Cup VII kali ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: