Mai Ita Hamutuk Hodi Hader Rai Belu —-"Bersaudara itu sungguh Indah"

Gambar

Atambua – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November yang lalu, segenap barisan mahasiswa yang menamakan diri Barisan Muda Pendukung Kabupaten Malaka (Sadanbetemalaka) menggelar aksi demo untuk penyelesaian masalah tapal batas Lotas antara Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang menjadi kendala utama dalam pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Malaka.

Puluhan mahasiswa Sadanbetemalaka terdiri dari beberapa elemen mahasiswa Malaka, yakni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Atambua St. Yohanes Paulus II, Forum Solidaritas Mahasiswa Belu Kupang (FOSMAB), Ikatan Mahasiswa Malaka Kupang (IMALA), Perhimpunan Mahasiswa Malaka Barat Kupang (PERMABAR), Himpunan Mahasiswa Raimanuk Kupang (IMAPRI), Ikatan Mahasiswa Knokar Liurai Kupang (ITAKANRAI), Ikatan Mahasiswa Kobalima Kupang (IMAKO) dan Perhimpunan Mahasiswa Kobalima Timur Kupang (PERMASKOT).
 
Mereka menggelar aski demonya di sepanjang Jalan Adisucipto Atambua yang dimulai dari markas PMKRI Cabang Atambua yang terletak di daerah Tenubot Atambua. Kelompok massa bergerak menuju rumah jabatan Bupati Belu lalu berarak menuju Pasar Baru Atambua dan membacakan orasi. Setelah itu massa menuju kantor DPRD Belu yang terletak di tengah jantung kota Atambua. Kantor
yang menjadi lumbung aspirasi rakyat ini akhirnya menerima para mahasiswa Malaka yang dipimpin langsung oleh ketua DPRD Belu, Simon Guido Seran serta sejumlah anggota DPRD Belu.
 
Bupati Belu yang juga hadir di kantor DPRD Belu kepada pers mengungkapkan,“ Semua berkas pemekaran sudah lengkap hanya sekarang tinggal cari solusi bersama untuk penyelesaian masalah tapal batas Lotas,” ungkap Bupati Belu Drs. Joachim Lopes. Selain itu ketua DPRD Belu, Simon Guido Seran mengatakan,“ DPRD Belu mendukung secara politik pemekaran Malaka berangkat dari
tuntutan kemarin pada tanggal 30 Oktober lalu. DPRD Belu telah berkonsultasi ke menteri dalam negeri dan Dirjen Otda namun tidak sempat bertemu” ungkapnya. Dengan tegas ketua DPRD Belu mengatakan bahwa permasalahan penghambat Kabupaten Malaka adalah masalah tapal batas Lotas semua persyaratan sudah terpenuhi, tuturnya.
 
Sementara itu salah satu mahasiswa asal Malaka dari PMKRI cabang Atambua yakni Rofinus Seran Berek kepada penulis mengungkapkan,“ Saya dan teman-teman mengharapkan agar kedepannya Malaka bisa dimekarkan jadi Daerah Otonomi Baru (DOB) Malaka dan perlu adanya komunikasi antara pemerintah dan masyarakat untuk mencari solusi penyelesaian masalah tapal batas Lotas,” tutur mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi pada Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Fajar Timur Atambua ini. Ia pun mengharapkan agar pemekaran Malaka ini jangan dijadikan lahan bisnis dan tidak boleh dipolitisasi oleh elit-elit tertentu, ujarnya.
 
Pembentukan Malaka menjadi DOB ini telah diperjuangkan oleh pemerintah kabupaten Belu dan telah mendapat apresiasi positif dari pemerintah pusat. Yaitu dengan mengutus Tim Observasi dari direktotrat Jenderal Otonomi Daerah kementerian dalam negeri pada tanggal 2 Oktober 2012 lalu.
 
Aksi demontrasi para mahasiswa Malaka terkait penolakan DOB Malaka oleh DPR RI ini juga dilakukan sebelumnya di Kupang dan Atambua. Sebelumnya, pada 30 Oktober yang lalu di Atambua juga pernah terjadi aksi demonstrasi. Dimana ratusan pemuda dan mahasiswa gabungan Gerakan Mahasiswa Malaka (Gemma) Kefamenanu dan PMKRI Cabang Atambua yang menamakan diri Gerakan Anak Batas Negeri (Gerbang) mengecam pemerintah yang dinilai tidak tanggap terhadap aspirasi masyarakat Malaka. DPR RI pada tangggal 24 Oktober 2012 lalu dalam sidang paripurna DPR RI tidak mensahkan Daerah Otonomi Baru (DOB) Malaka sebagai daerah pemekaran kabupaten baru.
 

Sementara itu di Kupang pada tanggal 5 November 2012, para mahasiswa Malaka yang tergabung dalam Sadanbetemalaka melakukan aksi demo dengan menggelar aksi damai ke kantor Gubernur NTT dan kantor DPRD propinsi NTT. Isi tuntutan para mahasiswa serupa yakni berupa penyelesaian masalah tapal batas Lotas dan mempercepat proses pemekaran kabupaten Malaka.

GambarJAKARTA – Tidak seperti biasanya, tribun di lapangan Atang Kopassus Cijantung Jakarta sore ini (Sabtu 10 Nov) diwarnai emosi dan dendam para supporter tim Belu dan Persena A (Nagekeo).

Tepat pukul 4 sore kick off pertandingan antara kedua tim ini dilakukan suasana di tribun langsung memanas karena kapten tim Persena A dengan nomor punggung 19 berhasil membobol gawang anak-anak Belu pada menit pertama, gol tercepat sepanjang sejarah turnamen Ngada Cup di Jakarta.

Suporter di tribun berteriak dan melompat menyambut gol cepat itu sementara suporter Belu diam tak bergeming.

Anak-anak Belu seperti baru bangun dari tidur, mereka belum fokus. Padahal penampilan tim Belu, untuk kali kedua ini, lebih hebat dengan masuknya beberapa pemain baru.

Dari luar lapangan, anak-anak Belu memang telah didoktrin harus memenangkan laga versus Persena A karena mereka telah menelan kekalahan dari tim Golewa B (Ngada) pada pertandingan sebelumnya.

Peluang manis tercipta bagi Belu di menit ke 18 ketika striker tercepat dengan nomor punggung 9 diganjar oleh pemain belakang Persena A di kotak pinalti. Namun sayang, pemain Belu dengan nomor punggung 2 gagal mengeksekusi menjadi gol karena bola mengenai mistar gawang.

Setelah berkali-kali menekan, striker Belu dengan nomor punggung 9 akhirnya berhasil membobol gawang Persena A pada menit ke 30. Giliran suporter Belu menyambut gol dengan teriakan keras dan bergoyang di pinggir lapangan dan tribun.

GambarSalah satu manajer Belu beraksi memamerkan segepok uang kertas seratus ribu, sebuah cara unik memompa semangat anak-anak Belu di dalam lapangan. Uang itu memang disiapkan bagi pemain jika berhasil memenangkan pertarungan atas Persena A, pertarungan untuk sebuah balas dendam, membalas cemoohan dengan cemoohan.

Perseteruan antar suporter pun tak terbendung. Suasana di luar lapangan terasa lebih panas ketimbangan sengitnya pertaruhan bola di dalam lapangan. Tim keamanan dari Kopassus berdiri siaga di pinggir lapangan.

Babak pertama usai, salah satu pemain Belu menari disco di depan suporter Persena A seiring dengan dentuman musik disco yang disuguhkan bung opereter. Perang urat saraf tidak berhenti meski pertandingan diistirahatkan. Wajah-wajah suporter Persena A tampak merah karena dendam sedang membara di hati.

Tak lama, dendam dan emosi suporter Persena A akhirnya tuntas karena di luar dugaan kapten Persena A dengan nomor punggung 19 langsung merobek gawang Belu pada menit pertama babak kedua. Skor 2-1 untuk Persena A di papan skor depan tribun membuat suporter Belu tertegun dan mungkin bertanya ‘mengapa gol ke gawang Belu demikian cepat terjadi? Pertanda Persena A akan keluar sebagai pemenang?”

Tidak tahu persis apa yang sedang terlintas di benak suporter Belu. Yang bisa dilihat, suporter Belu tetap semangat, ceria, dan bergoyang karena musik non stop menghibur.

Malapetaka kemudian membuyarkan harapan suporter Persena A ketika pemain libero Persena A dengan nomor punggung 6 diganjar kartu merah oleh wasit karena menyelamatkan bola dari gawang dengan tangan kirinya.

Suporter Persena A mulai cemas karena kehilangan satu pemain jangkar di barisan pertahanan membuat tekanan oleh penyerang Belu makin hebat.

Untuk sesaat suporter Persena A masih bernapas lega karena hadiah pinalti gagal dimanfaatkan menjadi gol oleh pemain Belu dengan nomor punggung 18. Tendangan penuh emosi melesakkan bola jauh di atas mistar gawang Persena A.

Tak lama berselang, bola shooting dari kaki pemain Belu dengan nomor punggung 7 hanya membentur tiang gawang Persena A, tidak berbuah gol.

Salah satu nona Belu menarik perhatian penonton di tribun dengan bergoyang saat bung opereter menyuguhkan lagu berirama house music. Dia cuek bergoyang meski suporter Persena A di tribun meneriakinya.

Sementara di dalam lapangan, anak-anak Belu terus memberi tekanan secara bertubi-tubi. Penjaga gawang Persena A tampil gemilang dan menghalau sekitar empat peluang gol bagi Belu.

Defisit satu pemain akibat diganjar kartu merah oleh wasit, pertandingan praktis dikuasai anak-anak Belu. Barisan pertahanan belakang Persena A mulai frustrasi. Dan pelanggaran pun tak terhindarkan. Persis terjadi di luar daerah 16. Giliran kapten Belu dengan nomor punggung 18 berhasil membobol gawang Persena dari tendangan bola mati itu. Skor berubah jadi 2-2.

Anak-anak dari kabupaten dekat perbatasan dengan Timor Leste ini bertambah semangat dan menambah tekanan. Perjuangan mereka pun berhasil karena pada menit ke 88 pemain Belu dengan nomor punggung 6 melakukan solo run dan shooting bola ke gawang Persena A dan berbuah gol. Skor 3-2 bagi Belu tidak berubah hingga pertandingan usai.

Anak-anak Belu kemudian disambut para suporternya, lebih banyak nona-nona, dan mereka berpelukan mesra di pinggir lapangan dekat tribun. Suporter Persena A langsung bergegas meninggalkan lapangan sementara sebagian duduk sambil menunduk untuk menyembunyikan keluarnya air mata, ungkapan hati yang kecewa.

Apapun itu, laga Belu vs Persena A adalah laga yang paling menyedot emosi penonton sekaligus terbaik dan dramatis dibanding laga-laga sebelumnya di event Ngada Cup VII kali ini.

 

GambarDuo sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana segera merilis film terbaru hasil kolaborasi mereka pada 8 November 2012 di dua puluh layar bioskop Indonesia. Film yang pengambilan gambarnya dimulai pada April 2012 lalu tersebut berjudul Atambua 39 Derajat Celsius.

Film yang menyorot cerita penduduk di sisi perbatasan Atambua, Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan Timor Leste tersebut disebut-sebut sebagai film dengan biaya terendah yang pernah digarap oleh Mira Lesmana.

Atambua sendiri merupakan suatu daerah di Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya berasal dari eksodus besar-besaran penduduk Timor Leste pada 1999. Hingga saat ini, masih ada sebagian penduduk yang diselimuti rasa trauma karena terpisah dari anggota keluarga yang memilih hidup di Timor Leste.

Sinopsis Atambua 39 Derajat Celcius berkisah soal seorang pemuda bernama Joao yang terpisah dari Ibunya sejak umur tujuh tahun karena dibawa sang Ayah, Ronaldo, pindah ke Atambua setelah referendum 1999. Sementara itu, Ibu dan dua adik Joao tinggal di Liquica, Timor Leste.

Setelah tinggal di Atambua, Joao menghabiskan waktu menjadi tukang ojek dan bermalas-malasan dengan gerombolan teman remajanya. Sementara itu, Ronaldo merupakan supir bus antar kota yang sering mabuk sampai akhirnya dipecat oleh atasannya. Ada pula Nikia, seorang gadis yang ada di Atambua guna menyelesaikan ritual duka kematian kakeknya dan kemudian menjadi dekat dengan Joao.

Tabloid Bintang pernah mengabarkan bahwa Atambua 39 Derajat Celsius ini dibuat dengan biaya Rp 1,2 miliar. Sebagai perbandingan, film Laskar Pelangi, yang juga merupakan hasil kolaborasi Riri Riza dan Mira Lesmana, dieksekusi dengan dana Rp 8 miliar.

Sebagian biaya untuk menggarap Atambua 39 Derajat Celsius didapat melalui situs pengumpulan dana massal dalam negeri, Wujudkan.com. Dari target Rp 300 juta, film tersebut berhasil menjaring Rp 312. 837.000 dari 102 donatur pada 31 Mei 2012.

Selain itu, kru film yang memiliki durasi 80 menit ini pun tidak besar, hanya empat belas orang dengan tambahan delapan penduduk asli Timor. Sekumpulan pemeran Atambua 39 Derajat Celsius juga merupakan penduduk asli Timor, bahkan bahasa yang digunakan pun merupakan bahasa asli Tetun dan Porto.

Patut digarisbawahi bahwa film ini juga sudah mendapat tempat untuk mengikuti kompetisi utama di festival film Tokyo yang akan diadakan pada 20 sampai 28 Oktober 2012 dan festival film Rotterdam pada 23 Januari hingga 3 Februari 2013.

GambarIkatan Mahasiswa/i Timor Jakarta (Immorta) sukses menjadi juara turnamen futsal yang digelar Forum Pemuda NTT Penggerak Perdamaian dan Keadilan (Formadda NTT) di Lapangan Sekolah SMK St Fransiskus Kampung Ambon, Jakarta Timur hari ini, Minggu, (9/9).

Immorta menundukkan Cibal United di partai final.  Meski tidak terlalu diperhitungkan saat awal turnamen, Cibal United yang merupakan klub dari perkumpulan pemuda asal Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai tampil memukau sehingga berhasil mencapai partai final. Namun, di babak final, Immorta mampu mengunci permainan mereka, sehingga Cibal United kalah telak 4-0.

Turnamen Formadda Cup yang diikuti oleh 12 tim ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Formadda, Yohanes Kristoforus Tara pagi tadi. Saat apel pembuka, Kristo yang juga imam katolik dari tarekat Fransiskan ini menegaskan, turnamen ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan kaderisasi Formadda.

“Diharapakan, setelah turnamen ini, ada pemuda-pemudi yang belum bergabung bersama Formadda, bertekad untuk masuk menjadi angggota Formadda”, kata Kristo.

Ia pun menjelaskan, Formadda ingin semakin banyak kaum muda asal NTT yang bergabung menjadi anggota agar bisa digembleng dan dibina sehingga nanti ketika menjadi pemimpin di NTT, bisa menjadi pemimpin yang berkarakter dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, perdamaian dan cinta akan lingkungan hidup.

“5 sampai 10 tahun ke depan, Anda yang sekarang terlibat dalam turnamen ini akan menjadi pemimpin-pemimpin NTT, entah itu dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya. Formadda berupaya menjadi wadah persiapan Anda sekalian”.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan kaderisasi Formadda, pada Jumat-Minggu (14-16/9) akan diadakan acara “Penerimaan Anggota Baru (PENABA)  di Balai Latihan Kerja Kemenakertrans-Bekasi.

Sedangkan, penyerahan hadiah untuk turnamen akan diselenggarakan pada tanggal 29 September 2012.

Immorta keluar sebagai Juara I, diikuti Cibal United sebagai juara II dan Juara III adalah Belu Oan Jakarta (B On J)

 

GambarNusa Tenggara Timur ternyata menyimpan banyak peninggalan tua bernilai tinggi dan tetap lestari hingga sekarang.

Berbagai peninggalan unik seperti itu layak diusulkan menjadi warisan budaya dunia melalui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).          

Hal itu disampaikan oleh Made Purna dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat dan NTT ketika menyaksikan pameran budaya jagung di Museum NTT di Kupang, Senin (11/9/2012) malam.

“Ternyata NTT sangat kaya dengan berbagai peninggalan bernilai tinggi,” kata Made Murna merespons penjelasan tetua Jusuf Boimau (70) terkait keberadaan jagung bagi masyarakat Timor khususnya atau NTT umumnya.

“Bagi kami di Timor, juga NTT, jagung tidak hanya sebatas hasil kebun untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga roh kehidupan yang proses budidayanya melalui aneka ritual khusus,” tutur tetua asal Niki-niki (Kabupaten Timor Tengah Selatan), sekitar 130 kilometer sebelah timur Kota Kupang.          

Setelah mendengar masukan dan penjelasan dari berbagai pihak, Made Purna menyebutkan sejumlah peninggalan budaya bernilai tinggi NTT yang layak menjadi warisan dunia.

Di antaranya alat musik sasando milik etnis Rote, tinju tradisional etu (Nagekeo), dan atraksi saling cambuk bernama caci (Manggarai). Selan itu, juga tarian sakral  gawi (Lio Ende), ja’i (Ngada), likurai(Belu), pado’a (Sabu), dolo-dolo (Flores Timur), dan banyak lagi lainnya.          

“Berbagai warisan budaya bukan benda ini adalah harta kekayaan budaya kita yang harus dilestarikan keberadaannya melalui lembaga seperti UNESCO. Pengakuan secara internasional itu penting untuk menghindari kemungkinan klaim bajakan bangsa lain,” tambahnya.

Permasalahan pelik terkait batas wilayah antara Kabupaten TTS dan Belu bakal menjadi penghalang proses pemekaran Kabupaten Malaka. Pemkab TTS bersama DPRD TTS meminta agar Komisi II DPR RI segera menyelesaikan masalah batas sebelum Kabupaten Malaka disahkan menjadi daerah otonom baru.

Wakil Bupati TTS, Benny Litelnoni bersama Ketua DPRD TTS Eldat Nenabu dan sejumlah anggota Komisi A DPRD TTS bertemu Ketua Komisi II DPR RI, Agun Gunanjar, Kamis (28/6) di Senayan, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Eldat Nenabu meminta agar Komisi II memberi ketegasan kepada Gubernur NTT untuk menyelesaikan masalah tapal batas antara Kabupaten TTS dan Kabupaten Belu sebelum mengesahkan Kabupaten Malaka menjadi daerah otonom baru.

Menurut Eldat, terdapat tiga desa yang batas wilayahnya tumpang tindih, yakni Desa Lotas, Naiusu dan Muke. Tiga desa yang ditetapkan Pemkab Belu tersebut berada dalam wilayah Kabupaten TTS, tepatnya dalam wilayah desa Benahe, Desa Lotas dan Desa Obaki.

Dengan demikian, lanjutnya, batas wilayah kedua kabupaten semakin tidak jelas. Padahal, urai Eldat, peraturan Pemkab Belu tentang penetapan tiga desa tersebut baru dibuat setelah penetapan oleh Pemkab TTS. “Jadi peraturan Pemkab Belu itu tidak lagi mengacu pada SK Gubernur NTT tahun 1971,” katanya.

Seharusnya, menurut Eldat, peraturan yang dibuat Pemkab Belu harus merujuk pada SK GUbernur NTT Tahun 1971 yang sudah disepakati bersama. Karena terjadi selisih paham, maka dia meminta agar masalah ini dapat menjadi perhatian Komisi II DPR RI sebelum menetapkan Kabupaten Malaka menjadi kabupaten yang mekar dari Kabupaten Belu.

Bahkan, Eldat dengan tegas meminta Pemkab Belu mencabut keputusan penetapan tiga desa tersebut. “Pemerintah Belu harus cabut Perda tersebut sehingga merujuk pada SK Gubernur tahun 1971. Dengan dicabutnya Perda Belu ini, maka mereka dengan sendirinya merujuk pada SK Gubernur tahun 1971, sehingga batas yang ada tidak jadi persoalan,” tandasnya.
Dia menambahkan, Pemkab TTS tidak menentang adanya proses pemekaran Kabupaten Malaka.

Mereka tetap mendukung proses pemekaran tersebut, namun tapal batas antara wilayah TTS dan Belu harus diperjelas terlebih dahulu. “Kami mengharapkan ketegasan DPR RI kepada Gubernur NTT untuk menegaskan kepada Pemerintah Belu agar mencabut Perda pembentukan desa dalam desa. Desa dalam wilayah TTS. Pemkab Belu tetapkan tiga desa ini ada dalam wilayah tiga desa TTS. Jadi harus diperjelas,” tegas Eldat.
Menurutnya lagi, jika tak segera dibereskan, akan muncul masalah baru yang lebih rumit ketika Malaka sudah resmi menjadi kabupaten. “Nanti muncul kabupaten baru, ada infrastruktur yang telah dibangun dalam kabupaten TTS dalam tiga desa yang dibentuk oleh Pemkab Belu ini.

Juga akan bermasalah saat penyerahan aset. Mau menyerahkan aset, tapi aset ini ada dalam kabupaten TTS. Jadi harus ada ketegasan DPR RI sebelum pengesahan Kabupaten Malaka,” kata Eldat.

Wakil Bupati Benny Litelnoni menambahkan, masalah ini akan selesai jika ada ketegasan dari Pemprov NTT. Oleh karena itu, dia berharap Komisi II memberikan perhatian seraya menegaskan kepada GUbernur NTT untuk segera bersikap.

Benny juga menyayangkan sikap Pemkab Belu yang tidak kooperatif untuk menyelesaikan masalah ini. Pasalnya, beberapa kali GUbernur NTT mengundang Pemkab Belu dan TTS untuk berkoordinasi, namun Pemkab Belu tidak hadir. “Kami menyerahkan kepada DPR RI untuk bisa memfasilitasi dan memberikan jalan keluar terhadap masalah ini,” kata Benny.

Terkait masalah ini, Ketua Komisi II DPR RI Agun Gunanjar mengatakan Komisi II akan segera bersikap agar tidak ada masalah jika Malaka sudah ditetapkan menjadi kabupaten. Oleh karena itu, kata Agun, Komisi II akan memanggil Gubernur NTT, Bupati TTS dan Belu serta DPRD NTT, DPRD TTS dan DPRD Belu untuk segera menyelesaikan ini. “Pasti kita akan panggil agar segera berkoordinasi menyelesaikan masalah ini,” katanya.

Dia menambahkan, masalah yang diangkat ini tidak mengandung arti Pemkab TTS menghambat atau tidak setuju dengan pemekaran Kabupaten Belu, namun ingin agar tidak jadi masalah ketika Malaka jadi kabupaten sendiri. “Kalau tidak diselesaikan, maka timbul persoalan batas wilayah kabupaten Malaka dengan TTS. Batasnya menjadi yang mana, karena tiga desa Belu ada di TTS.

Ini harus diperjelas, karena kita hanya akan tetapkan daerah yang menjadi kabupaten jika punya administrasi yang sudah jelas dan pemerintahan yang baik,” tegas Agun.

 

Niat pemerintah Kabupaten Belu, untuk membangun rumah sakit bertaraf nasional pada RSUD Atambua, akhirnya terwujud. Buktinya Sabtu (21/7), dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung berlantai tiga, yang lengkap dengan berbagai fasilitas pendukungnya, untuk pelayanan medis kepada pasien di kabupaten maupun negera tetangga Timor Leste.

Terpantau, seremoni peletakan batu pertama itu dilakukan oleh Bupati Belu, Joachim Lopez, anggota DPR RI, Charles J. Mesang, didampingi Dandim 1605 Belu, Letkol (Kav) Jonni Haryanto, sejumlah pimpinan SKPD dan tokoh masyarakat. 

Usai seremoni itu, Charles Mesang dalam sambutannya mengatakan, momentum ini, merupakan hasil dari doa masyarakat Kabupaten Belu, sehingga melalui dirinya, bisa memperjuangkan pembangunan rumah sakit di Senayan, yang awal pembangunan ini senilai Rp 35 miliar dari total anggaran Rp 180 miliar.

Pada tahun 2013 mendatang, dirinya akan memperjuangkan lagi Rp 40 sampai Rp 50 miliar lagi, untuk kelanjutan pembangunan RSUD Atambua, yang nantinya akan bertaraf nasional.
Dia berharap, dalam pemanfaatan nanti, manajemen rumah sakit menghilangkan istilah kelas satu, dua dan tiga. 

Semua ini dimaksudkan agar tidak ada perbedaan di antara masyarakat, sebab masyarakat memiliki hak yang sama. “Jika nanti ditiadakan kelas bagi pasien, maka ini merupakan satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang menghilangkan kelas-kelas dalam pelayanan medik,”paparnya.

Kepada kontraktor, dia meminta agar memaksimalkan waktu pembangunan yang ada, sebab proyek ini akan berakhir pada 31 Desember nanti. “Segera dilakukan pembangunan, supaya selesai pada akhir tahun anggaran 2012.” 

Bupati Belu, Joachim Lopez dalam sambutannya mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada Charles J. Mesang sebab semua ini hasil perjuangannya di DPR RI. Tanpa beliau, rencana pembangunan rumah sakit ini tidak akan berjalan. Dengan pembangunan ini harapnya, manejemen RSUD Atambua mulai membenahi pelayanan dan meningkatkan SDM para petugas medis. 

“Ketika gedung ini jadi, maka tentunya dibarengi dengan peningkatan SDM dan manjemen. Jadi saya minta semua manejemen untuk tingkatkan SDM para petugas medis termasuk dokternya,”kata J-Lo sapaan akrab bupati Belu.

Dalam laporannya, Direktris RSUD Atambua, Yenny Tasa menyebutkan, pembangunan RSUD tahap pertama menelan biaya sebesar Rp 35 miliar, yang bersumber dari dana tugas pembantuan APBN tahun 2012. Rumah sakit ini untuk totalnya membutuhkan dana sebesar Rp 180 miliar, yang akan bertahap dibangun. Kontraktor pelaksana dalam pembangunan ini katanya, yakni PT Waskita Karya.

 

Pemerintah Provinsi NTT diminta memperhatikan ruas jalan Wemer sebagai penghubung Atambua-Betun, yang saat ini putus dan rusak berat, akibat longsor beberapa tahun lalu.

Perlunya perbaikan ruas jalan itu, karena ruas jalan itu menjadi penghubung terdekat, dan merupakan ruas jalan provinsi. Demikian Wakil Ketua Komisi C DPRD Belu, Dominikus Kiik Asa, dan anggota Komisi C, Vinsen Kehi Lau, beberapa waktu lalu, di gedung DPRD Belu.

Dikatakan, ruas jalan Wemer telah rusak hampir dua tahun lebih, dan hingga kini belum ada upaya perbaikan ruas jalan tersebut. Dengan belum diperbaiki ruas jalan itu, akses menuju daerah-daerah di bagian selatan Belu sangat sulit dan memakan biaya.

Dijelaskan, pihaknya beberapa waktu lalu, telah menyampaikan persoalan itu kepada pemerintah dan DPRD Provinsi, akan tetapi sampai kini belum terealisasi. Pihaknya juga berusaha ke Kementerian untuk menanyakan ijin pembukaan jalan baru, karena Wemer merupakan kawasan hutan lindung. 

Hanya saja, karena upaya pemerintah dan DPRD Provinsi NTT yang hampir tidak terlihat, membuat ijin yang diharapkan tidak kunjung dikeluarkan. “Kami heran pemerintah dan DPRD NTT kok diam saja. Ada DPRD NTT daerah pemilihan Belu TTU, juga tidak berjuang untuk jalan Wemer,”papar keduanya.

Masih menurut mereka, kerusakan jalan Wemer telah menimbulkan biaya tinggi dalam transportasi. Dahulunya ketika melalui Wemer, untuk mencapai Betun, hanya butuh satu jam, akan tetapi kini dengan melewati Uarau-Halibot juga Nurobo Kateri, membutuhkan waktu hampir tiga jam. 

Akibat jauhnya itu, membuat pembengkakan biaya transportasi, dimana tarif angkutan umum pergi pulang mencapai Rp 50.000, dari sebelumnya hanya Rp 15.000.
Pemprov NTT, kata mereka, jangan tutup mata dengan kondisi ini, karena bisa mengganggu transportasi dan ekonomi masyarakat. 

“Jangan tutup mata Jalan Wemer merupakan tanggungjawab Pemprov dan DPRD NTT, karena merupakan jalan provinsi. Ruas jalan Nurobo-Kateri merupakan jalan kabupaten, termasuk ruas jalan Uarau-Halibot,”bilang mereka. 

Jika terhambat izin ujar mereka, pemerintah provinsi hendaknya mengupayakan izin, bukan mendiamkan diri, hingga tidak diketahui kapan akan diperbaiki ruas jalan itu, yang lebih murah dalam biaya dan lebih cepat dalam waktu. 

Jika tidak upaya pemerintah provinsi dan DPRD Belu, pihaknya akan mengkampanyekan agar masyarakat jangan memilih pemimpin yang sekarang dalam Pilgub, termasuk anggota DPRD NTT asal Belu saat ini. 

 

 

Likurai Belu

Lembaga Pengembangan dan Perlindungan Anak (LPPA) Belu, Timor Tengah Utara (TTU) Mitra Childfund Indonesia menyelenggarakan kegiatan Festival Seni dan Budaya Belu bagi para siswa Sekolah Dasar dan PAUD yang bertempat di Gedung Olahraga Tulamalae Atambua.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 26 kelompok yang terdiri dari kelompok SD dan PAUD. LPPA Belu-TTU selama ini telah mendampingi kelompok PAUD sebanyak 32 kelompok serta kelompok SD sebanyak 42 SD yang tersebar di du kebupaten yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. 

Festival Seni dan Budaya ini menggelar lomba tarian tradisional Belu yakni  Likurai, Bidu dan Tebe selama dua hari penuh. Tarian Bidu, Tebe dan Likurai merupakan tarian tradisional dari wilayah Belu yang memiliki fungsi dan peran dalam setiap acara-acara adat seperti penyambutan tamu agung, peresmian rumah adat, pernikahan maupun perayaan-perayaan kegembiraan pada saat merayakan kemenangan ataupun pesta panenan hasil kebun. 

“Tarian Bidu, Tebe dan Likurai dari Kabupaten Belu ternyata sangat indah. Sekarang tarian tradisional seperti ini sudah mulai ditinggalkan. Karena itu kami dari LPPA Belu-TTU mitra Childfund Indonesia mencoba menghidupkan kembali dan menggelar festival seni dan budaya bagi anak-anak SD dan PAUD. Kita berupaya membudayakan kembali tarian Tebe, Bidu dan Likurai mulai dari anak usia dini agar tarian tradisional ini tetap lestari, ” ungkap ketua LPPA Belu TTU, Carolus Tae BA. Selain itu selama ini kurikulum pendidikan lebih pada mendidik anak-anak untuk cerdas tetapi pendidikan keterampilan juga tidak boleh terabaikan. Pertumbuhan otak dan kemampuan bukanlah satu-satunya yang diperlukan harus pula ditambahkan dengan keterampilan.

Selain kegiatan festival seni dan budaya Belu, diadakan pula kegiatan pameran hasil kreasi anak – anak PAUD dan remaja dampingan LPPA Belu-TTU. Mereka menyajikan berbagai hasil kreasi seperti kerajinan tangan berupa lukisan dan gambar, seni rupa patung dan hasil kreasi lainnya yang ada disetiap stan yang terpajang diarena Gedung Olahraga Tulamalae. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Pendidikan Nasioanl (HARDIKNAS) yang jatuh pada 2 Mei 2012 namun karena persiapan Ujian Nasional SD maka penyelenggaraannya dilaksanakan pada 18 dan 19 Mei 2012. 

Kegiatan selama dua hari penuh ini dibuka secara resmi oleh kepala bidang (kabid) pendidikan non formal dan informasi dinas PPO Kabupaten Belu Matheus Mau. Dihadiri oleh orang tua para siswa, para tokoh masyarakat, para remaja dampingan LPPA Belu – TTU serta beberapa suster yang mengabdi pada sekolah-sekolah Katolik yang mengikuti kegiatan tersebut dimana pada umumnya sekolah-sekolah Katolik. 

Kegiatan festival seni dan budaya ini mendapat respons positif dari masyarakat dengan membludaknya masyarakat untuk mengikuti dan melihat secara pasti. Masyarakat juga memadati tribun GOR Tulamelae ketika menyaksikan tarian tradisional Belu yang diperagakan oleh tubuh-tubuh mungil para siswa SD. (Pengirim: Fransiskus Pongky Seran)

This gallery contains 1 photo.

Lima belas sekolah menengah atas di Belu meraih kelulusan ujian nasional (UN) 2012 seratus persen. Dari jumlah ini, tingkat SMA diraih delapan dari 13 sekolah penyelenggara UN. Sementara SMK dari total 9 sekolah penyelenggara, sebanyak 7 sekolah meraih persentase kelulusan 100 persen.  Persentase kelulusan secara umum di Kabupaten Belu untuk tingkat SMA sebesar 98,57 persen atau […]

GambarProduser film Mira Lesmana saat ini tengah menggarap sebuah film berjudul `Atambua 39 Derajat Celsius` yang menyorot cerita manusia di sisi perbatasan, antara Atambua (Nusa Tenggara Timur-Indonesia) dengan Timor Leste.

Di film yang rencananya di rilis September 2012 itu, produser Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi itu mengetengahkan kisah bagaimana kabar hidup para eksodus dari Timor Leste kini setelah 12 tahun referendum.

“Saya sebenarnya malu, saya pun ikut lupa, ternyata masih ada masalah di sana setelah referendum itu,” kata Mira di Yogyakarta, Kamis, 19 April 2012.

Istri aktor Mathias Muchus itu menuturkan, pihaknya terakhir kali mengangkat soal problematika di NTT, khususnya bidang pendidikan di Flores dan Timor, melalui film dokumenter sekitar setahun silam untuk lembaga dunia, Unicef. Setelah menyelami lebih dalam melalui film yang digarapnya bersama Riri Reza itu, permasalahan di bumi Timor ternyata lebih kompleks.

“Dan kita banyak yang tak mengetahuinya karena seolah semua baik-baik saja, tenggelam dari sorotan publik,” kata dia.

Misalnya saja soal para warga yang sebagian masih dibalut trauma karena terpisah dari anggota keluarga yang memilih hidup di Timor Leste. Warga eksodus yang kembali itu di Atambua disebut sebagai “warga baru”. Tak hanya itu, kehidupan yang jauh dari sejahtera seperti belum masuknya listrik, air, serta sarana lain ikut memperparah keadaan tersebut.

“Pemerintah Indonesia seperti lupa bahwa ada manusia di sana, yang terombang-ambing belasan tahun dengan ketidakjelasan nasib,” kata Mira.

Dalam film yang semua aktornya diperankan warga Timor itu, digunakan sepenuhnya bahasa Tetun,bahasa asli warga setempat. Sementara ketika saat dilaunching di film itu baru dilengkapi dengan subtitle Indonesia sebagai bantuan untuk penonton memahami. 

Untuk penyelesaiannya film ini, Mira masih mencari pendanaannya. Mira mengaku sengaja tak mengarahkannya film itu ke arah komersil sehingga segala pembiayaannya pun akan dihimpun dari berbagai sumber, salah satunya funding dan donatur. “Saya ingin film ini benar-benar punya sisi lain, tak sekedar menghibur,” kata kakak musisi Indra Lesmana itu.

Apa yang terjadi di Atambua saat ini, kata Mira, tak lebih dari sebuah victim politic. Namun produser film Eliana-Eliana itu tak ingin fokus pada sisi politik, melainkan sisi kemanusiaan yang terjadi di sana.

Produser yang mengaku sudah jatuh cinta dengan pulau Timor ini menilai fungsi film baginya adalah menjadi pengingat atas hal-hal yang sudah terlupakan, tak sekedar menghibur. Dengan film bisa juga mendorong terjadinya perubahan pola pikir, dari yang buruk menjadi baik. Seting Atambua sengaja dipilih Mira sebagai kritik tak langsung juga atas perkembangan industri film saat ini yang hanya mengambil latar Jakarta dan sekitarnya. “Apa Indonesia itu cuma Jakarta?” kata pendiri Miles Production itu. 

GambarPEMERINTAH Kabupaten Belu melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dinilai tidak serius mengatasi masalah tenaga kerja (TKI) ilegal karena selalu lolos dari pengawasan. Hal ini juga karena ada indikasi kuat terjadi persekongkolan antara lembaga-lembaga terkait. Demikian ditegaskan Sekretaris PMKRI Cabang Atambua, Frederikus Seran di Atambua, Sabtu, (3/3), terkait digagalkannya 24 calon TKI ilegal yang akan dipekerjakan di Kalimantan Timur.
Seran menyatakan, banyaknya TKI ilegal asal Belu yang lolos dari perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) mengindikasikan ketidakseriusan pemerintah mengawasi perekrutan tenaga kerja oleh perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) ilegal.
“Ada indikasi konspirasi antara lembaga-lembaga terkait, makanya banyak TKI ilegal asal Belu selalu lolos ke luar negeri,” tandasnya.
Seharusnya, kata Seran, Disosnakertrans bersama DPRD mengawasi TKI ilegal secara ketat. PJTKI ilegal mesti dicopot dan diberikan sanksi tegas. 

Sudah Diawasi
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Arnold Bria Seo mengungkapkan, pihaknya telah mengawasi secara ketat perekrutan TKI ilegal melalui PJTKI yang mendaftar pada Disosnakertrans. 
Seo menyebut, ada 48 PJTKI legal yang mendaftar di Disosnakertrans dan hanya satu kepala cabang serta tiga koordinator yang aktif di Belu. “PT Tistama Agra Jaya yang diakui untuk merekrut tenaga kerja ke luar negeri, dan PT Sinar Mas Group dan Ima Jaya adalah lembaga resmi perekrut tenaga kerja antardaerah,” sebutnya. 
Anggota Komisi C DPRD Belu, Maxi Mura meminta Pemkab Belu memperketat pengawasan terhadap perekrut tenaga kerja ilegal. Karena jika tidak, masyarakat yang menjadi korban. 
“Pemerintah kecamatan dan desa harus memperhatikan warganya agar tidak tergiur tawaran perekrut tenaga kerja ilegal. Pemerintah desa juga harus serius mengawasi gerak-gerik oknum PJTKI ilegal,” tukasnya.

B ON J In Action

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

MASYARAKAT Kabupaten Belu patut bersyukur karena memiliki obyek wisata yang menarik. Salah satu yang terkenal adalah Kolam Susuk. Lingkungan Kolam Susuk menyuguhkan pemandangan alam yang indah. Saking indahnya pemandangan di sini, Grup Band Legendaris Koes Plus mengabadikannya dalam lagu ‘Kolam Susu’. Lagu tersebut benar-benar menggambarkan keindahan Kolam Susuk. Kolam ini dikelilingi pohon-pohon bakau yang selalu hijau sepanjang musim.
Di dekat kolam itu terdapat pantai yang juga indah. Konon kabarnya, kolam ini dinamakan Kolam Susuk karena pada tempo dulu pernah disinggahi tujuh bidadari cantik “yang dititip” Raja Lifao, Oekusi, untuk mandi-mandi. Untuk menjaga agar setelah mandi para gadis ini tidak mengantuk, dititipkan juga nyamuk untuk mengganggu mereka, agar gadis-gadis cantik ini selalu terjaga dan tidak menjadi mangsa para pembantu raja.
Kolam ini terletak sekitar 17 kilometer arah utara Kota Atambua atau sekitar 15 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat. Kolam ini berada di wilayah Desa Junelu, Kecamatan Kakuluk Mesak.
Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari Atambua membuat lokasi ini menjadi pilihan warga untuk berdarmawisata. Sayangnya, lopo-lopo yang dibangun untuk tempat berteduh di sekitar kolam, tidak terawat dan mulai rusak.
Sisi kolam dulu dimanfaatkan warga sekitar untuk mengembangkan tambak ikan dan udang. Hal itu pula yang mulai merusak lingkungan sekitar. Kini setelah sekian lama rusak, Pemkab Belu mulai berencana mengembangkan kembali obyek wisata ini. Rencana ini muncul setelah Kolam Susuk ditetakan sebagai salah satu destinasi wisata dalam Sail Komodo 2013.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu Dominikus Mali, masyarakat Belu seharusnya bersyukur karena Kolam Susuk menjadi salah satu destinasi wisata. Untuk itu, berbagai fasilitas seperti lopo yang terdapat di sekitar kolam akan diperbaiki. Di Kolam Susuk, selama dua hari berturut-turut akan ditampilkan pertunjukan budaya Belu.
Selain sebagai potensi wisata, kolam ini bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan budi daya ikan air tawar.
Yohana Bait, warga setempat mengatakan, Sail Komodo 2013 menjadi awal yang baik untuk mengembangkan budaya lokal di Kabupaten Belu, terutama mempromosikan potensi wisata Kolam Susuk.

PEMKAB Belu sedang mempersiapkan personil atau PNS untuk menyongsong pembentukan Kabupaten Malaka. Persiapan itu dilakukan sebagai salah satu syarat pembentukan kabupaten baru. Hal itu disampaikan Sekda Belu Petrus Bere di Atambua, Senin (23/4).
Menurut Bere, persiapan personil dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemkab Belu dan Pemprov NTT untuk menempatkan personil di Kabupaten Malaka bila terbentuk menjadi kabupaten baru.
Mengenai dana pengembangan Kabupaten Malaka, ia menyebutkan, keuangan yang digunakan untuk tahun pertama membangun Malaka bersumber dari hibah APBD NTT dan kabupaten induk dengan kesepakatan masing-masing mencairkan dana sebesar Rp 5 miliar. Jadi, total anggaran untuk membangun Malaka sebesar Rp 10 miliar.
Menyangkut sarana dan prasarana, Bere mengatakan, akan menyiapkan bangunan untuk perkantoran, seperti kantor daerah dan kantor dinas lainnya yang digunakan untuk kegiatan pemerintahan kabupaten.

Tidak Terpancing Isu
Bere berharap agar masyarakat tidak mudah tertipu dengan isu-isu miring yang menyebutkan bahwa Malaka tidak akan menjadi sebuah kabupaten baru. Sebab isu miring itu tidak sesuai upaya Pemkab Belu selama ini. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pimpinan daerah Kabupaten Belu, pimpinan DPRD, Pemprov dan DPRD NTT, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan semua lapisan masyarakat yang mendukung pemekaran Malaka.Ketua Suku Rabasa Baralik-Wailiku, Kecamatan Malaka Tengah Dominikus Klau berharap, Pemkab Belu secepatnya memekarkan Malaka menjadi sebuah kabupaten baru.
Menurut Klau, Malaka sudah siap menjadi kabupaten baru karena memiliki potensi alam yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha pertanian dan perkebunan. Dia juga mengingatkan, Pemkab Belu agar cermat mendistribusikan personil yang akan ditempatkan di Kabupaten Malaka. Dengan demikian, terjadi pemerataan dalam distribusi personil atau pegawai negeri sipil.

Wakil Bupati BeluPEMEKARAN Kabupaten Malaka terpisah dari Kabupaten Belu telah diakomodasi Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dalam rancangan undang-undang pembentukan daerah otonom baru (RUU DOB). Selain itu, pemekaran Kabupaten Malaka mendapat prioritas dalam RUU tersebut.
Wakil Bupati Belu, Taolin Ludovikus, yang dihubungi, Selasa (10/4) mengatakan, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI telah menyetujui RUU pembentukan daerah otonomi baru yang diusulkan Komisi II DPR RI. “Baleg sudah menyepakati Kabupaten Malaka sebagai kabupaten sendiri terpisah dari Kabupaten Belu dalam rancangan undang-undang tersebut. Jadi, kita menunggu waktu saja untuk Malaka disahkan sebagai sebuah kabupaten definitif” ujarnya.
Taolin mengatakan, dalam rapat paripurna dengan DPD RI 5 April lalu, Malaka mendapat urutan pertama dari semua DOB yang diusulkan untuk dimekarkan.
“Tanggal 11 April DPR RI membahas lagi rancangan undang-undang (RUU) pemilukada dan pemekaran daerah baru lalu akan dibawa dalam rapat pleno DPR RI pada Juni ini. Diharapkan, RUU ini segera disahkan menjadi UU,” tuturnya.
Menurutnya, berdasarkan versi DPR RI, ada 20 DOB yang sudah diplenokan sedangkan DPD RI ada sembilan DOB. Namun demikian, Malaka tetap menjadi prioritas karena berbatasan langsung negara Republik Demokratik Timor Leste.
Taolin menambahkan, Malaka akan segera dimekarkan menjadi sebuah kabupaten baru terlepas dari kabupaten induk karena sudah dibahas dalam rapat paripurna DPD RI pada 5 April lalu.
Untuk itu, Taolin harapkan kepada masyarakat Kabupaten Belu pada umumnya dan masyarakat Malaka khususnya agar tidak terprovokosi dengan isu-isu miring bahwa perjuangan untuk memekarkan Malaka hanyalah sia-sia.
“Semua pihak punya kewajiban untuk mencerahkan masyarakat Kabupaten Belu bahwa Malaka akan segera menjadi kabupaten baru. Sebab, Malaka bukan hanya untuk orang Malaka, melainkan juga semua orang Belu,” tandasnya.
Ketua Komisi A DPRD Belu Maksimus Nahak berharap DPR RI segera mengetuk palu pemekaran daerah baru.
“Mudah-mudahan Malaka menjadi prioritas dalam rapat pleno DPR RI Juni mendatang karena memang semua persyaratan sudah dipenuhi calon kabupaten Malaka,” tuturnya.

PERAYAAN Paskah di seluruh wilayah Kabupaten Belu, berlangsung aman. Ratusan ribu umat, dengan penuh khusuk, beribadah di sejumlah tempat ibadah dengan tenang. Kondusifnya kondisi di Belu, diakui oleh Kapolres Belu, AKBP Darmawan Sunarko, ketika dikonfirmasi Minggu kemarin.

Dia mengakui, perayaan Paskah oleh umat Kristiani di Kabupaten Belu, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste, berlangsung dengan aman, tanpa gangguan sedikitpun.

Dilanjutkan, berdasarkan pantauan pihaknya di sekitar kota Atambua, maupun laporan dari setiap Polsek di lingkup Polres Belu, perayaan Paskah, mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Minggu Paskah, selalu aman terkendali, di bawah pengamanan pihaknya bersama TNI dan Pol PP. “Selama yang kami pantau di sekitar Atambua, baik pada gereja Katolik maupun Protestan, berjalan dengan khusuk dan aman,”urainya.

Sementara berdasarkan laporan dari setiap Polsek dan Polsubsektor di berbagai kecamatan, menyatakan perayaan Wafat dan Kebangkitan Yesus Kristus oleh umat Kristiani, berjalan sesuai jadwal.

“Dari laporan yang kami terima, semua lancar dan aman selalu,”ungkap
AKBP Darmawan melanjutkan, pihaknya menggunakan prosedur tetap yang telah ada, dan hasilnya semua bisa berjalan baik, dan umat Kristen dapat mengikuti setiap perayaan Paskah dengan aman dan damai.

Dia menambahkan, keamanan dan ketertiban yang ditunjukan membuktikan kalau di Kabupaten Belu, terjalin kerja sama yang baik antar umat, maupun antar umat dengan pihaknya, dalam menjaga situasi yang kondusif pada perayaan Paskah maupun hari raya umat beragama lainnya.

JAKARTA, Meski pemerintah telah menyatakan penghentian sementara (moratorium) pemekaran daerah, namun DPR terus melaju dengan inisiatif mereka untuk mengesahkan sejumlah calon daerah otonomi baru (DOB).

Tidak tanggung-tanggung, jumlah calon DOB yang baru saja disetujui di Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mencapai 19 dari 20 yang diusulkan. Keputusan persetujuan atas usulan tersebut akan diputuskan pada sidang DPR pada 11 April ini.

Dihubungi terpisah, anggota Komisi II DPR RI Yasonna H Laoly membenarkan nama-nama calon DOB baru tersebut. Daerah-daerah itu, kata dia, merupakan usulan lama. Bahkan, sejak periode DPR sebelumnya. Meski begitu, kata dia, keputusan akhirnya di sidang paripurna DPR RI.

“Nanti akan diputuskan di rapat paripurna. Kita lihat nanti,” ujar Yasonna di Jakarta, Jum’at (06/4/2012) malam.

19 calon DOB tersebut adalah:

1. Provinsi Kalimantan Utara
2. Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur
3. Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan
4. Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan
5. Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur
6. Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat
7. Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara
8. Kabupaten Pesisir Barat, Lampung
9. Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat
10. Kabupaten Banggai Laut, Sulawesi Tengah
11. Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah
12. Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara
13. Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara
14. Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara
15. Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara
16. Kabupaten Muna Barat, Sulawesi tenggara
17. Kota Raha, Sulawesi Tenggara
18. Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat
19. Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat

Satu daerah yang belum diloloskan adalah kabupaten Sofifi, Maluku Utara.

WILAYAH Malaka yang sementara diperjuangkan untuk menjadi daerah otonom baru (DOB) ternyata bukan hanya retorika fiktif. Bahkan, upaya untuk memekarkan Malaka sebagai sebuah kabupaten baru mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi NTT.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, di Atambua, baru-baru ini, menyatakan, Malaka akan segera dimekarkan menjadi sebuah kabupaten baru terpisah dari Kabupaten Belu.
Pemekaran Kabupaten Malaka ini juga merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi untuk menambah jumlah kabupaten di NTT sebagai sebuah Provinsi Kepulauan,” tuturnya.
Gubernur Lebu Raya mengungkapkan, pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten Belu sedang mengupayakan pembentukan Kabupaten Malaka.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat, DPR RI segera membuat Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Malaka. Kita dengan Pak Bupati sudah desak DPR RI untuk segera membuat Undang-Undangnya “ ujarnya.

Pembohongan Publik
Lebu Raya menandaskan, wacana tentang ketakjelasan pembentukan Kabupaten Malaka yang digelontorkan segelintir pihak merupakan upaya pembohongan kepada publik. ”Siapa yang bilang Malaka tidak jadi kabupaten baru, itu bohong. Jangan percaya itu,” pinta Gubernur.
Sementara, Bupati Belu, Joachim Lopez menambahkan, Komite I DPD RI akan menggelar rapat paripurna 5 April 2012 mendatang untuk membahas pembentukan Kabupaten Malaka.
Hasil rapat paripurna itu, kata Lopez, akan direkomendasikan kepada DPR RI untuk segera ditindaklanjuti terkait dengan pembentukan Malaka sebagai daerah otonom baru. ”Kita harap Malaka segera terbentuk sebagai sebuah kabupaten baru,” pintanya.

Jelang Pemilu Presiden di Timor Leste yang akan berlangsung pada 17 Maret mendatang, Pemerintah Indonesia tidak akan mengambil langkah untuk mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada disana. Pasalnya, meski disinyalir kampanye yang dilakukan sejumlah calon presiden Timor Leste mulai memanas, Pemilu di wilayah bekas provinsi Indonesia yang ke-27, yaitu Timor Timur yang merdeka menjadi negara Timor Leste pada tahun 2002 diyakini akan berlancar aman dan tertib.

“Tidak ada anggapan bahwa Pemilu itu tidak berjalan dengan baik. Pasti berjalan dengan baik,” ungkap Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Marty Natalegawa usai mendampingi kunjungan kehormatan delegasi Parlemen Denmark dan upacara penyerahan surat kepercayaan Dubes LBBP Resident dan Non Resident untuk Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (9/3).

Jelas dia, Timor Leste adalah salah satu negara tetangga Indonesia yang memiliki hubungan sangat erat dengan negara ini.
Dirinya pun mengatakan, sejauh pantauan saat ini persiapan Pemilu Timor Leste yang akan berlangsung untuk kedua kalinya, sejak negara itu secara resmi diakui kemerdekannya pada tahun 2002 masih berjalan aman-aman saja. “Kita mengikuti dengan seksama perkembangan Pemilu disana,” tambahnya saat ditanya apakah Pemerintah mendengar bahwa Pemilu disana akan terhambat.

Di sisi lain, menyangkut keanggotan Timor Leste pada ASEAN, Marty menceritakan, sebenarnya di antara negara ASEAN pada KTT  November lalu, sudah ada ungkapan yang menyambut positif aplikasi Timor Leste untuk bergabung ke dalam ASEAN. Jadi, jelasnya sudah ada ungkapan positif secara politik terkait hal ini.

Adapun, saat ini menurutnya yang perlu mendapatkan pembahasan lebih lanjut adalah menyangkut modalitasnya. “Bagaimana urut-urutannya dan prosesnya sehingga Timor Leste, Insya Allah, bisa bergabung secara penuh dalam keluarga besar ASEAN. Ini sedang dibahas dalam tingkat Menlu dan juga tingkat teknis,” tambah dia.

Jumlah pegawai negeri sipil (PNS) di Indonesia saat ini sekitar 4,7 juta orang. Jumlah itu, menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abu Bakar, kelebihan 1,7 juta orang. Artinya, sejatinya kita cukup memiliki 3 juta PNS.

Kelebihan 1,7 juta orang tersebut tentunya membuat postur PNS sangat tambun. Dampaknya, belanja pegawai amatlah besar sementara kualitas pelayanan kepada masyarakat belum tentu meningkat. Postur itu, sekaligus juga mencerminkan adanya pengangguran terselubung di birokrasi.

Ada banyak PNS yang tidak memiliki job description jelas, bahkan tidak memiliki tugas pokok dan fungsi, meskipun mereka menerima gaji dan hak-hak lain dari negara. Hal yang juga merisaukan, dari 4,7 juta PNS, hanya 5 persen, atau sekitar 240.000 orang yang memiliki kompetensi tertentu, dan sisanya 95 persen memiliki kompetensi umum.

Dari porsi 95 persen itu, hanya separuhnya yang berkualitas. Artinya ada lebih dari dua juta PNS yang tidak berkualitas. Potret ini tentu sangat mencengangkan. Tidak heran, jika banyak sorotan negatif diarahkan ke PNS dan birokrasi.

Kelebihan hingga 1,7 juta orang itu menandakan pola perekrutan PNS tidak berdasar kebutuhan. Di samping itu tidak ada pengawasan ketat, sehingga pemerintah daerah dan instansi pemerintah jor-joran membuka lowongan PNS. Lemahnya kontrol, mengakibatkan nepotisme marak.

Kolega pejabat mendapat tempat di PNS, meski tidak memiliki kompetensi yang memadai. Alhasil, perekrutan PNS dijadikan alat politik. Kepala daerah menjadikan ini sebagai program populis mengatasi pengangguran di daerahnya.

Menurunnya pengangguran lewat jalur PNS dianggap prestasi, sehingga menjadi bekal untuk mempertahankan kedudukan. Pada kenyataannya, masih banyak masyarakat yang masih ingin menjadi PNS sebagai mata pencaharian. Penyebabnya, menjadi PNS ibarat memasuki wilayah nyaman (comfort zone) sepanjang hidup.

Tanpa disadari, zona nyaman ini melemahkan kinerja PNS, sehingga kualitas aparatur negara jauh dari harapan. Betapa tidak, seseorang tidak akan kehilangan status PNS walaupun dia berkinerja jauh di bawah apa yang seharusnya dilakukan, kecuali yang bersangkutan mengundurkan diri, meninggal dunia, atau terbukti bersalah yang dikuatkan dengan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

Selepas usia produktif, seorang mantan PNS diberi uang pensiun hingga akhir hayatnya, dan hak itu masih bisa diterima pasangan hidupnya juga hingga akhir hayat. Kondisi tersebut, mengakibatkan seorang PNS tidak pernah tercambuk untuk menunaikan kewajibannya secara profesional. Justru sebaliknya, tidak tercipta situasi “ancaman” yang bisa mendorong PNS bekerja lebih baik.

Tidak mengherankan jika publik masih mendapati PNS keluyuran ke pusat perbelanjaan di saat jam kerja, mangkir kerja selepas libur panjang Lebaran, atau pulang lebih awal. Ironisnya, sudah menjadi rahasia umum jika birokrasi dijadikan ladang mencari penghasilan tambahan oleh PNS. Berbagai pungutan liar kerap dirasakan warga masyarakat manakala meminta pelayanan PNS.

Berbeda dengan karyawan swasta, yang harus diakui memiliki etos kerja dan profesionalitas di atas PNS. Faktornya adalah sistem kerja yang memang memacu mereka untuk menunjukkan kinerja optimal. Mereka berada dalam lingkungan kerja dengan intensitas persaingan yang ketat, sehingga seolah merasa terancam kehilangan pekerjaan, jika tidak memberikan yang terbaik.

Kondisi berbeda terjadi di dunia kerja swasta, yang antara lain sudah mengenal balance score card dan key performance indicator, yakni parameter untuk mengukur output yang harus dicapai oleh seorang karyawan. Jika mereka tak mampu mencapainya, tidak ada alasan untuk bertahan di perusahaan itu.

Ironisnya lagi, anggaran rutin untuk birokrasi, termasuk gaji PNS dan pensiunan, menyedot porsi terbesar dari anggaran pemerintah. Rata-rata nasional, 54 persen anggaran pemerintah (APBN dan APBD) terserap untuk anggaran rutin birokrasi. Bahkan ada 14 daerah yang anggaran rutin untuk birokrasi mengambil porsi lebih dari 80 persen dari total belanjanya.

Dengan potret PNS yang merisaukan tersebut, sudah saatnya pemerintah mengambil kebijakan zero growth, atau tidak lagi membuka lowongan PNS. Posisi yang lowong karena pensiun bisa diisi oleh sejawat PNS lainnya, karena selama ini kinerja mereka terkesan tidak efektif.

Pemerintah harus secepatnya melakukan reformasi birokrasi guna menciptakan birokrat yang efektif dan efisien. Etos kerja profesional harus dimunculkan, antara lain dengan menetapkan kriteria dan indikator kinerja di masing-masing instansi pemerintah.

Langkah lainnya adalah menerapkan struktur penggajian berdasarkan merit system, atau mengedepankan prestasi seseorang. Hal ini diharapkan menjadi insentif bagi PNS untuk semakin berprestasi. Selain itu, sudah saatnya memberlakukan aturan bahwa PNS bukanlah status seumur hidup. Sebagaimana di swasta, seorang PNS harus bisa kehilangan pekerjaannya dengan segala konsekuensinya, jika terbukti tidak berprestasi atau tidak memenuhi kriteria di dalam jabatan yang diembannya.

 

Sumber:

http://www.suarapembaruan.com/tajukrencana/merampingkan-pns/17988

Aksi jambret di Kota Atambua,NTT, semakin marak dalam beberapa hari terakhir. Sasaran jambret pada umumnya kaum ibu yang tengah mengendarai kendaraan bermotor ataupun berjalan menenteng tas pribadi di tempat keramaian.
Kasus terakhir terjadi pekan lalu di jalan depan rumah jabatan bupati Belu.
Informasi yang dihimpun Pos Kupang di Atambua, Sabtu (4/2/2012) menyebutkan, aksi oknum penjambret tas milik kaum wanita belakangan ini marak di Kota Atambua.
Oknum pelaku menggunakan kendaraan roda dua dan menutup wajah dengan helm. Ketika melihat sasaran, oknum penjambret membuntutinya dari belakang kemudian menarik tas dari pemiliknya baik yang sedang mengendarai kendaran maupun berjalan kaki.
“Dalam seminggu ini sudah tiga kali kasus jambret. Modusnya dengan cara mendorong pengendara terutama ibu-ibu yang membawa tas. Kemarin (Jumat, 3/2/2012) terjadi di jalan depan rumah jabatan bupati Belu.
Setelah korban didorong, langsung tasnya diambil, pelaku langsung kabur. Ini kasus terbaru yang perlu diwaspadai warga terutama kaum ibu,” ujar sumber Pos Kupang.
Secara terpisah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Belu, Ana Tiwu, menyatakan keprihatinannya terhadap maraknya kasus jambret itu.
Kondisi seperti ini mestinya cepat ditanggapi aparat Kepolisian Resor (Polres) Belu dengan melakukan patroli kota. Apabila masalah ini dibiarkan, jelas Ana, maka dampak ikutannya akan meluas dan tentu meresahkan warga terutama kaum perempuan.
“Saya kira ini kasus tidak bisa dibiarkan. Saya berharap aparat kepolisian termasuk aparat di tingkat kelurahan, RT/RW, untuk sama-samaa mengantisipasinya.

Sumber:
http://www.tribunnews.com/2012/02/05/aksi-jambret-marak-di-atambua

Selamatkan Anak-Cucu Kabupaten Belu Dari Racun Mangan

Keberadaaan lingkungan hidup sebagai wilayah keberlangsungan hidup manusia dan alam semesta, semestinya dalam pemanfaatan haruslah dapat dipahami dalam dua aspek yakni; faktor keseimbangan dan keberlangsungan keberadaaan sumber daya. Akan tetapi jika kedua hal di atas tidak dilakukan secara baik, maka, berdampak buruk, yakni kerusakan lingkungan hidup bagi keberlangsungan anak cucu kita di masa mendatang.

Dalam aktifitas kegiatan tambang, lingkungan hidup dan ekosistem ditempatkan pada wilayah yang tidak seimbang. Malah, pemanfaatan pertambangan adalah investor atau kaum kapitalis tanpa mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang. Masyarakat hanya memiliki pilihan menjadi buruh tambang atau migrasi ke daerah lain (inikan sama dengan masyarakat menjadi tamu di tanah sendiri dan menjadi penonton rumah dan tanah mereka diambil dan dirusak oleh pihak yang menjanji-janjikan kehidupan yang lebih baik dengan keberadaan tambang). Apalagi, Mangan adalah unsur kimia yang digunakan untuk peleburan logam (metalurgi) proses produksi besi baja, baterai kering, keramik dan gelas. Jika mangan terserap oleh tubuh dalam jumlah banyak, akibatnya dapat merusak hati, membuat iritasi, karsinogen atau menyebabkan kanker pada manusia, hewan dan tumbuhan melalui rantai makanan. Di sisi lain, apa pernah dipikirkan tentang apa yang akan dilakukan saat pasca tambang, atau saat lahan itu tidak dapat digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat (pertanian, peternakan, pariwisata) seperti sebelumnya. Kearifan lokal masyarakat setempat (Rafae) akan adanya zonasi pengelolaan dimana ada kawasan pertanian, peternakan dan sakral (dilindungi) tidak dihiraukan oleh pertambangan.

Warga desa Rafae yang tergabung dalam koalisi anti tambang menggelar aksi demo di depan gedung DPRD Belu, Sabtu (11/2). Mereka meminta aktivitas pertambangan di desa Rafae, Kecamatan Raimanuk, kabupaten Belu segera dihentikan karena dalam berbagai hal merugikan masyarkat. Mereka juga meminta agar surat Keputusan Bupati Belu Nomor: BLH.660.1/06/AMDAL/II/2010 harus dicabut, CV Alam Jaya dan PT. Jabs Group diminta segera meninggalkan lokasi pertambangan Rafae. PT. Jaaps Group harus mengembalikan tanah mereka seperti semula, mengembalikan embung-embung mereka, dan memulihkan ritual adat yang sudah dilecehkan CV Alam Jaya dan PT. Jaaps Group.

Menyikapi kasus ini, kami Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah NTT ingin menanggapi berita Tambang Mangan yang ditolak di Rafae.

Bahwa penolakan warga desa Rafae, Kecamatan Raimanuk tentunya telah dilandasi pada beberapa pemikiran yang fundamen, dimana pertambangan itu memasuki wilayah perkampungan dan akan menggusur beberapa fasilitas umum seperti, SD Obor, Puskesmas dan sumber mata air

Bahwa diduga Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Mangan di Rafae banyak kepentingan yang tidak mengakomodir kepentingan rakyat di Rafae, karena itu aspirasi warga mestinya menjadi perhatian Pemkab Belu. Karena tanpa menambang di wilayah itu pun kabupaten Belu tetap eksist.

Bahwa, kami menyeruhkan agar segera dilakukan peninjauan kembali atas IUP yang dinilai warga bermasalah itu. Karena ini akan menambah jumlah konflik di kabupaten Belu. Pemkab Belu mestinya menempatkan diri sebagai pihak yang memfasilitasi bukan menjadi campaigner adanya pertambangan. Harus dihormati aspirasi warga rafae yang tidak mau wilayahnya ditambang. Dan itu diatur jelas dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 2008 tentang Minerba, pasal 9 ayat (2) bahwa a.) secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab; b.) secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait, masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan; c.) dan dengan memperhatikan aspirasi daerah.

Bahwa apabila dalam menyikapi aspirasi warga yang menolak tambang ini tidak secara bijak, maka ini adalah bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia terutama dalam Kovenan Ekonomi Sosial, budaya.Lebih dari itu aktivitas pertambangan mangan akan berdampak pada anak cucu dan ini adalah pelanggaran HAM.

Sumber :
http://www.walhi.or.id/id/ruang-media/pernyataan-sikap/2150-selamatkan-anak-cucu-kabupaten-belu-dari-racun-mangan.html

Kabupaten Belu bagian utara, Nusa Tenggara Timur, surplus jagung hibrida. Tidak ada hama belalang atau kekeringan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Belu, Remigius Asa, Sabtu (11/2/2012), mengatakan, ia optimis panen jagung dan jenis tanaman lain tahun ini cukup sukses.

“Bibit jagung hibrida yang dibagikan pemerintah Belu telah dimanfaatkan petani untuk menanam. Semuanya cukup sukses. Tidak ada tanaman yang gagal, khususnya di bagian Belu Utara,” kata Asa.

Ia yakin, Belu tahun 2012 surplus pangan. Tidak ada ancaman kelaparan menjelang puncak kemarau tahun ini (Oktober- Januari).

Sumber :
http://regional.kompas.com/read/2012/02/11/0904587/Belu.Utara.Surplus.Jagung

SELASA, 21 FEB 2012,

Dokumen Calon Kabupaten Malaka Lengkap

ATAMBUA,- Ketua Tim Komite I DPD RI, Emanuel Babu Eha dalam sambutannya ketika melakukan kunjungan bersama sejumlah anggota Komite I DPD RI ke Betun sebagai calon ibukota Kabupaten Malaka, Senin (20/2) kemarin menyebutkan, dokumen terkait pemekaran calon Kabupaten Malaka dari Kabupaten Belu sudah lengkap.

Dirinya bersama rekan-rekannya di komite I yang membidangi pemerintahan, salah satu tentang otonomi daerah sudah melakukan pemeriksaan semua dokumen dan semuanya sudah dinyatakan lengkap.

“Untuk berkas atau dokumen pemekaran yang diajukan sudah kami periksa dan lengkap semuanya,” ujar anggota DPD RI dari NTT itu.
Disebutkan, kedatangannya untuk melihat dari dekat terkait berbagai kesiapan pemekaran calon Kabupaten Malaka sebelum mengeluarkan rekomendasi dari DPD RI kepada DPR RI untuk dibahas lebih lanjut.

“Kami datang untuk lihat dari dekat kesiapan wilayah ini untuk menjadi daerah otonom baru. Dari pengamatan kami semua sudah ada dan potensi sangat cukup,” paparnya seraya melanjutkan, hingga saat ini ada 123 calon daerah otonom baru (DOB) yang diajukan, namun semua masih dikaji akibat dari moratorium pemekaran yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Walau ada moratorium katanya, berdasarkan kajian daerah perbatasan dengan negara lain mendapat prioritas untuk dimekarkan. “Memang ada moratorium, tapi ada kajian kalau daerah perbatasan mendapat prioritas termasuk calon Kabupaten Malaka yang sedang diperjuangkan saat ini,” bilang mantan Wakil Bupati Sumba Timur itu, didampingi sejumlah anggota DPD yang juga anggota Komite I DPD RI yakni Anang Prihantono, HT Bachrum Manyak, Denty EW Pratiwi, Wasis Siswoyo dan Abdulrahman.

Dia melanjutkan, walau daerah perbatasan mendapat prioritas untuk dimekarkan, tapi tidak langsung jadi karena harus melalui kajian, apalagi masih dalam moratorium pemekaran daerah otonom baru.

Dia mengharapkan, jajaran Pemkab Belu untuk mendalami hal-hal yang perlu dikaji antara lain penataan tata ruang kota pasca pemekaran, ada sewa gedung untuk kantor, sumber-sumber PAD dan tapal batas yang jelas seperti tapal batas di Lotas.

Sementara, anggota DPD RI, Anang Prihantono, HT Bachrum Manyak, Denty EW Pratiwi, Wasis Siswoyo dan Abdulrahman mengharapkan dukungan seluruh pihak untuk proses pemekaran calon Kabupaten Malaka. “Mari kita saling dukung untuk pemekaran calon DOB ini,” kata mereka ketika menyampaikan sambutannya.

Bupati Belu, Joachim Lopez dalam sekapur sirih mengatakan, maksud kunjungan anggota Komite I DPD RI untuk melihat seluruh kesiapan teknis dan kewilayahan di Kabupaten Belu. Kunjungan dimaksudkan agar DPD RI tidak kecolongan ketika dilakukan pembahasan lebih lanjut, termasuk menerbitkan rekomendasinya. “Mereka ingin lihat dari dekat juga supaya ada semacam gambaran ketika ada pembahasan pemekaran,” ujarnya.

Camat Malaka Tengah, Gabriel Seran dalam kata pembukanya mengatakan, masyarakat Malaka berterima kasih karena Komite I DPD I RI sudah datang untuk melihat dari dekat wilayah yang akan dimekarkan.
Dia berharap agar perjuangan membuahkan hasil dan harapan masyarakat akan pemekaran dapat terealisir. (lok/ays)

JUMAT, 24 FEB 2012, |

Tanggul di Desa Lasaen Jebol
Empat Desa Terendam Banjir

ATAMBUA, Banjir bandang sungai Benenain kembali terjadi, Selasa (21/2) sekitar pukul 23.00 Wita. Kali ini, banjir bandang dengan ketinggian air sekitar satu meter menghempas warga Kecamatan Malaka Barat di Desa Lasaen, Sikun, Umatoos dan Fafoe serta Desa Oan Mane.

Informasi yang dihimpun Timor Express, Rabu (22/2) menyebutkan, banjir bandang yang terjadi merupakan banjir kiriman. Sudah dua pekan wilayah Malaka dan sekitaranya tidak turun hujan.
Banjir yang melanda empat desa itu tidak menimbulkan korban jiwa, namun lahan pertanian seperti padi dan jagung rusak di terpah banjir.

Kades Lasaen, Bernadus Nahak Seran yang dihubungi Timor Express membenarkan kalau wilayahnya dilanda banjir, Selasa malam lalu dengan ketinggian air mencapai satu meter.
“Banjir terjadi sudah tengah malam dengan tinggi air sekira satu meter,” paparnya.

Berdasarkan penelusurannya dilokasi banjir, tidak ada korban jiwa akibat banjir kiriman tersebut. “Kami sudah cek disemua warga tidak ada yang hilang atau tewas,” sebutnya.
Dikatakan, kerusakan akibat banjir antaranya, lahan pertanian baik padi dan jagung serta tanggul yang baru saja diperbaiki akhir Januari lalu. “Tanaman jagung dan padi rusak. Tanggul yang baru diperbaiki juga jebol semuanya,” tuturnya.

Menyoal lahan pertanian yang rusak diterjang banjir, dia mengatakan, pihaknya masih melakukan pendataan dan hingga kini belum selesai untuk dilaporkan kepada pemerintah kecamatan dan Kabupaten Belu.

Menurutnya, banjir yang terjadi merupakan banjir kiriman. Sebab, dalam beberapa pekan terakhir tidak ada hujan. Banjir diperkirakan terjadi akibat hujan lebat di wilayah TTU dan TTS, sehingga kirim air ke sungai Benenain debit besar besar sekali, sehingga menyebabkan banjir diwilayahnya maupun desa tetangga pada Kecamatan Malaka Barat.
“Ini air kiriman karena kemungkinan hujan lebat di wilayah TTS dan TTU. Kami sudah sekitar beberapa minggu ini tidak hujan,” ungkapnya.

Ditanya soal langkah-langkah mengatasi kerusakan lahan dan hasil pertanian, dia mengatakan, pihaknya masih mendata, jika sudah pastinya akan diajukan kepada Pemkab Belu untuk mengambil langkah lebih jauh.
Kades Oan Mane, Helmut Nggebu yang dihubungi juga mengaku kalau wilayahnya diterjang banjir sungai Benenain.

Akibat banjir, rumah warga digenangi air dan lumpur serta tanaman jagung maupun padi rusak. Sementara, untuk korban jiwa sudah di cross check, namun tidak ada. Saat ini pihak desa sedang melakukan pendataan berbagai kerusakan yang dialami warga.

Dia menyebutkan, pihaknya sudah melaporkan peristiwa itu kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belu, sehingga ada langkah konkrit dalam membantu korban banjir. “Kami sudah laporkan ke BPBD untuk lihat kondisi korban banjir,” urainya. (lok/ays)

Dialog Tentang Pemekaran Malaka
Komite I DPD RI Akan Kunjungi Belu

Upaya memperjuangkan pemekaran Kabupaten Belu menjadi dua yakni Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka terus dilakukan. Baik oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT maupun DPR RI.

Tidak ketinggalan, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI juga turut memperjuangkan pemekaran kabupaten yang berada di garis batas RI-RDTL itu.
Untuk maksud pemekaran Kabupaten Malaka, Komite I DPD RI direncanakan mengunjungi Kabupaten Belu, Minggu-Selasa (19-21/2) mendatang, guna berdialog dengan Pemerintah Kabupaten Belu.

Asisten Tata Praja Sekda Kabupaten Belu, Marsel Mau Meta yang dihubungi Timor Express, Rabu (15/2) di ruang kerjanya membenarkan rencana kunjungan Komite I DPD RI ke Kabupaten Belu 19-21 Februari mendatang. “Benar, Komite I DPD RI berencana akan mengunjungi Kabupaten Belu pada 19-21 Februari mendatang,” ujarnya.

Kunjungan Komite I DPD RI bertujuan untuk melihat dari dekat Kabupaten Belu dan calon Kabupaten Malaka guna penyusunan pemandangan dan pendapat DPD RI atas RUU Pembentukan Kabupaten Malaka. “Mereka datang lihat dari dekat Kabupaten Belu supaya bisa susun pemandangan dan pendapat DPD RI terkait dengan pembentukan Kabupaten Malaka,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya sudah mendapatkan fax resmi dari Sekretariat DPD RI terkait kunjungan DPD RI, di mana dinyatakan akan berkunjung ke Belu dalam rangka dialog dan pemantauan langsung calon Kabupaten Malaka yang sementara di godok.

Dia melanjutkan, Pemerintah Kabupaten Belu siap menerima kunjungan tersebut dalam rangka mendukung rencana pemekaran yang telah diperjuangkan Pemkab Belu selama ini. “Kami pada prinsipnya siap menerima, karena sangat berkaitan erat dengan pemekaran Kabupaten Belu yang dinanti-nantikan masyarakat,” ungkapnya.

Kunjungan Komite I DPD RI memiliki makna strategis di tengah perjuangan pemerintah untuk pemekaran Kabupaten Belu yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Pemerintah kabupaten tambahnya, sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk rencana kunjungan tersebut yang memiliki makna positif bagi Kabupaten Belu. (lok/ays)

Sumber:
http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=45453

Berbagi Dalam Persaudaraan

Alangkah indahnya hidup sebagai satu saudara; saudara yang saling mengingatkan akan hal-hal yang baik dan buruk, saudara yang saling melengkapi satu sama lain.
Perkumpulan Belu Oan Jakarta menjadi wadah untuk mengembangkan rasa persaudaraan sebagai sesama orang Belu di daerah Jabodetabek.

***

Di sebuah desa yang subur, hiduplah 2 lelaki bersaudara.
Sang kakak telah berkeluarga dengan 2 orang anak, sedangkan si adik masih melajang.
Mereka menggarap satu lahan berdua dan ketika panen, hasilnya mereka bagi sama rata.
Pada suatu malam setelah musim panen, si adik duduk sendiri dan berpikir bahwa pembagian ini sungguh tidak adil. Seharusnya kakakkulah yang mendapat bagian yang lebih banyak karena dia hidup dengan istri dan kedua anaknya. Maka di malam yang sunyi itu diam-diam dia menggotong satu karung padi miliknya dan meletakkanya di lumbung padi milik kakaknya.

Di tempat yang lain, sang kakak juga sedang duduk sendiri dan berpikir bahwa pembagian ini akan menjadi adil jika adikku mendapat bagian yang lebih banyak karena ia hidup sendiri dan jika terjadi apa-apa dengannya tak ada yang mengurus, sedangkan aku ada anak dan istri yang kelak merawatku. Maka sang kakak pun bergegas mengambil satu karung dari lumbungnya dan mengantarkan dengan diam-diam ke lumbung milik sang adik.

Kejadian ini terjadi bertahun-tahun. Dalam benak mereka ada tanda tanya, kenapa lumbung padi mereka seperti tak berkurang meski telah menguranginya setiap kali panen?
Hingga pada suatu malam setelah musim panen, mereka berdua bertemu di tengah jalan. Masing-masing mereka menggotong satu karung padi. Tanda tanya dalam benak mereka terjawab sudah, seketika mereka saling memeluk erat. Mereka sungguh terharu menyadari betapa mereka saling menyayangi.

***
Beginilah seharusnya kita bersaudara.
Harta tidak menjadi pemicu permusuhan melainkan menjadi perekat yang teramat kuat di antara saudara.
Tuhan telah menanamkan cinta pada hati mereka yang mau lelah memikirkan nasib saudara-saudara mereka.
Tuhan tak akan membiarkan kita kekurangan jika kita selalu berusaha mencukupi kehidupan orang lain.
Tuhan tak akan menyusahkan kita yang selalu berusaha membahagiakan orang lain.

VIVA B ON J…..!!
Berlakulah sebagai saudara bagi orang lain…!!

Deklarasi Belu Oan Jakarta

Lintas Indonesia – Jakarta. Kelompok Masyarakat Muda dari Kabupaten Belu (NTT) menggelar deklarasi Belu Oan Jakarta (B ON J). Tema yang di kedepankan adalah “Membangun Persaudaraan Agar Tetap Solid Sebagai Belu Oan Di Jabodetabek”. Diselenggarakan di anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT) TMII, Jakarta, 01/10/2011.

Menurut Ketua Umum, Primus Marianto Nahak “Niat ini tercetus berawal secara tidak sengaja lantaran sering saling berkomunikasi melalui Facebook. Kemudian kami berniat bersama rekan-rekan yang berada di Jakarta, mengadakan pertemuan yang kami buat di Monas,” Ujar Mahasiswa yang berada pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Disamping Deklarasi yang digelar, B On J juga mengadakan pentas budaya Kabupaten Belu. Primus menambahkan, “Perlu adanya organisasi kepemudaan Belu untuk menjalin kebersamaan dan mempererat tali silahturahmi khususnya pemuda yang berada di sekitar Jabodetabek,” Jelasnya.

Tampak beberapa tokoh masyarakat turut hadir memperkuat barisan kepemudaan yang baru pertama kali dibentuk. Mereka sengaja datang ke Jakarta turut meramaikan acara yang berlangsung hingga larut malam. Primus jeli didalam melihat kekayaan budaya didaerahnya untuk ikut serta mengangkat beberapa budaya khususnya yang berada di Kabupatenn Belu.
Sekilas tentang Kabupaten Belu yakni berdiri pada tahun 1958 dengan Ibukota Atambua, jumlah penduduk : 465.933 jiwa (2009) batas wilayah sebelah timur : Repulik Demokratik Timor Leste, sebelah barat : Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Timor Tengah Selatan, sebelah Utara : Selat Ombai, sebelah Selatan : Laut Timor.

Geografis, wilayah seluas 2.440,05 km² beriklim tropis dengan musim hujan yang sangat pendek (Desember-Maret) dan musim kemarau yang panjang (April-November). Transportasi Laut : Pelabuhan Laut Atapupu, Pelabuhan Teluk Gurita, Udara : Bandara Haliwen dengan jarak sekitar 3 km dari pusat Kota Atambua.

Pembangunan Kabupaten Belu memberdayakan ekonomi masyarakat melalui koperasi dan kelompok usaha bersama ekonomi (KUBE) dengan bertumpu pada potensi diri dan teknologi tepat guna. Produk andalan Kabupaten Belu adalah daun cendana, kerajinan Gerabah di Kecamatan Webriamata, Kerajinan Tenun ikat, Tas Tali Gewang,

Pada umumnya merupakan wilayah yang berbukit-bukit dan bergunung-gunung mendominasi wilayah bagian selatan dan sebagian kecil di bagian utara. Bagian tengah terdiri dari area dengan dataran sedang (200-500 m.dpal). Dataran tinggi hanya terdapat di bagian timur yang berbatasan langsung dengan RDTL. Dataran rendah dibagian selatan sebagian besar digunakan sebagai areal persawahan dan kawasan cagar alam hutan mangrove.

Kabupaten Belu berada pada Kecamatan Tasifet Barat, Tasifeto Timur dan sedikit di bagian Kecamatan Kakulukmesak. Beriklim tropis dengan musim hujan yang sangat pendek (Desember-Maret) dan musim kemarau yang panjang (April-November). Pelabuhan Laut Atapupu, Pelabuhan Teluk Gurita, Bandara Haliwen dengan jarak sekitar 3 km dari pusat Kota Atambua.

Primus menambahkan dengan terbentuknya organisasi kepemudaan yang baru pertama kali ada di Jabodetabek, “diharapkan kedepan putra-putra daerah yang tersebar di sekitar jabodetebek dapat menjadi generasi muda serta memiliki sumber daya manusia yang handal.

Sumber:
http://lintasindonesia.com/nasional/2069-belu-oan-jakarta

Deklarasi Belu Oan Jakarta

Simak dan Renungkanlah!

Coba luangkan sedikit waktumu untuk mengerti maknanya:
1. Doa bukanlah “ban serep” yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi “kemudi” yang menunjukkan arah yang tepat.
2. Mengapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil?
Karena, masa lalu tidak sepenting masa depan. Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.
3. Pertemanan itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tetapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.
4. Semua hal dalam hidup hanya sementara. Jika berlangsung baik, nikmatilah karena tidak akan bertahan selamanya. Jika berlangsung salah, jangan kuatir karena juga tidak akan bertahan lama.
5. Teman lama adalah emas. Teman baru adalah berlian. Jika kamu mendapat sebuah berlian, janganlah lupakan emas karena untuk menpertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.
6. Seringkali ketika kita kehilangan harapan, kita berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Namun, yakinlah bahwa itu hanya sebuah belokan, bukan akhir.
7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuan-Nya, ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.
8. Jemputlah setiap harimu dengan sukacita dan hadirkanlah kedamaian dalam hatimu. Raihlah impianmu selagi kamu mampu dan jadikanlah Tuhan sebagai “Kunci” membuka kesulitanmu setiap hari.

PERCAYA DAN YAKINLAH BAHWA ALLAH ITU IMMANUEL, SELALU BESERTA KITA.

Salah satu dari sekian kebudayaan daratan Belu adalah Tarian Likurai, yang pernah memukau warga ibukota Jakarta di tahun 60-an.
Tarian Likurai dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang didendangkan ketika menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dalam perang. Konon, ketika para pahlawan yang pulang perang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan) para feto (wanita) cantik atau gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para pahlawan dengan membawakan tarian Likurai. Likurai itu sendiri dalam bahasa Tetun (suku yang ada di Belu) mempunyai arti mungasai bumi. Liku artinya menguasai, Rai artinya tanah atau bumi. Lambang tarian ini adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau menaklukkan bumi, tanah air tercinta.
Tarian adat ini ditarikan oleh feto-feto dengan mempergunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk lonjong dan terbuka salah satu sisinya dan dijepit di bawah ketiak sambil dipukul dengan irama gembira serta sambil menari dengan berlenggak-lenggok dan diikuti derap kaki yang cepat sebagai ekspresi kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali para pahlawan dari medan perang. Mereka mengacung-acungkan pedang atau parang yang berhias perak. Sementara itu beberapa mane (laki-laki) menyanyikan pantun bersyair keberanian, memuja pahlawan.
Konon kepala musuh yang dipenggal itu dihina oleh para penari dengan menjatuhkan ke tanah. Proses ini merupakan penghinaan resmi kepada musuh. Selain itu para pahlawan tadi diarak ke altar persembahan yang sering disebut Ksadan. Para tua adat telah menunggu di sini dan menjemput para pahlawan sambil mencatat kepala musuh yang dipenggal itu serta menuturkan secara panjang lebar tentang jumlah musuh yang telah ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya diperdengarkan kepada khalayak ramai untuk membuktikan keperkasaan suku Tetun.
Pada masa kini, tarian tersebut hanya dipentaskan saat menerima tamu-tamu agung atau pada upacara besar atau acara-acara tertentu. Sebelum tarian ini dipentaskan, maka terlebih dahulu diadakan suatu upacara adat untuk menurunkan Likurai atau tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.

Belu merupakan salah satu dari 21 kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Letaknya di Pulau Timor. Luas Kabupaten Belu adalah 2.445,57 Km2. Pada sensus penduduk tahun 2010 ini, tercatat, penduduk Kabupaten Belu adalah sebanyak 352.400 jiwa. Penduduk Kabupaten Belu adalah yang terbesar nomor dua, sesudah penduduk Kabupaten Timor Tengah Selatan. Ibukota Kabupaten Belu adalah Atambua. Atambua merupakan kota terbesar kedua di Pulau Timor, sesudah Kupang. Penduduk Kota Atambua tercatat sekitar 75,000 jiwa. 

Secara adat-istiadat dan kebudayaan, Kabupaten Belu merupakan masyarakat adat Timor, yang hidup dalam empat kelompok suku-bangsa dan bahasa. Penduduk Kabupaten Belu, kebanyakan Orang Tetun. Selain Orang Tetun yang berkonsentrasi di sebagian besar Tasifeto, sebagian besar Malaka dan sebagian besar Kobalima; terdapat juga Orang Marae atau Bunak yang berkonsentrasi di hampir seluruh wilayah Lamaknen serta beberapa perkampungan lain di Tasifeto, Malaka dan Kobalima; Orang Kemak yang berkonsentrasi di Sadi, dan bberapa perkampungan lainl di Tasifeto serta Orang Dawan R yang berkonsentrasi di Manlea dan Biudukfoho, wilayah Malaka. Umumnya penduduk Kabupaten Belu, berasal dari ras Melayu Tua (Proto-Melayu), ras yang diyakini lebih tua dan lebih awal mendiami Pulau Timor. Selain Ras Melayu Tua, terdapat juga ras Melayu Muda (Deutero-Melayu) dan Asia (Cina). Baik ras Proto Melayu, Deutero Melayu dan Asia, telah berbaur dan telah terikat dalam sistem kawin-mawin, sejak beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun silam. Di Kota Atambua, juga beberapa kota kecil seperti Atapupu, Halilulik, Betun, terdapat juga sejumlah kecil penduduk yang berasal dari luar Kabupaten Belu, entah dari Pulau Timor sendiri, atau pun dari luar Pulau Timor.

Penutur adat Kabupaten Belu, yang dijuluki gelar Mako’an, menuturkan bahwa konon Pulau Timor ini belum muncul ke permukaan. Semua masih ditutupi air. Dan kita bisa membayangkan itu dengan jaman es (atau Jaman Glasial) yang terjadi sekitar 500 atau 600 ribu tahun silam. Dalam dunia ilmu pengetahuan, Jaman Glasial merupakan bagian dari Masa Neozoikum, khususnya Periode Pleitosen (Dilluvium) … yang ditandai pula dengan munculnya manusia raksasa (bdk. Science Daily, 27 Mei 2010).

Konon, seluruh permukaan bumi tertutup air, termasuk di Timor. Namun pada suatu ketika, di Timor, muncullah sebuah titik, yang ternyata itu adalah puncak tertinggi dari keseluruhan Pulau Timor kelak. Titik kecil itu muncul dan bersinar sendiri! Orang di generasi sesudahnya menggambarkan kembali titik bumi yang muncul itu dengan sapaan adat: Fo’in Nu’u Manu Matan, Foin Nu’u Bua Klau. Foin Nu’u Etu Kumun, Foin Nu’u Murak Husar. Baru Seperti Biji Mata Ayam, Baru Seperti Potongan Sebelah Buah Pinang, Baru Sebesar Gumpalan Nasi Di Tangan, Baru Sebesar Pusar Mata Uang. Dan titik kecil itulah yang kelak dikenal dengan Gunung Lakaan sekarang, sebagai puncak tertinggi di Kabupaten Belu! Oleh karenanya, tidaklah heran kalau Orang Belu menjuluki puncak itu dengan nama Foho Laka An, Manu Aman Laka An, Sa Mane Mesak, Baudinik Mesak. Gunung Yang Memiliki Cahaya Sendiri, Ayam Jantan Merah Bercahaya Sendiri, Seperti Lelaki Tunggal, Seperti Bintang Tunggal.

Dan di puncak Gunung Lakaan ini pula, diyakini oleh masyarakat Kabupaten Belu, lahirlah Manusia Pertama Belu. Sebenarnya ada nama yang dikenakan kepada Leluhur Pertama Orang Belu yang pertama kali hidup di Puncak Gunung Lakaan. Manusia pertama di Belu ternyata seorang Puteri Cantik. 

Berikut ini cuplikan catatan tentang Leluhur Pengasal Manusia Belu:
“Menurut cerita orang tua-tua di Belu, pada jaman dahulu kala, seluruh Pulau Timor masih digenangi air, kecuali puncak Gunung Lakaan. Pada suatu hari turunlah seorang putri dewata di puncak gunung Lakaan dan tinggallah ia di sana. Putri dewata itu bernama Laka Loro Kmesak yang dalam bahasa Belu berarti Putri tunggal yang tidak berasal usul. Laka Loro Kmesak adalah seorang putri cantik jelita dan luar biasa kesaktiaannya. Karena kesaktiannya yang luar biasa itu, maka Laka Loro Kmesak dapat melahirkan anak dengan suami yang tidak pernah dikenal orang. 

Para Mako’an Belu mengatakan bahwa “Suami” atau “Leluhur Lelaki” yang tidak dikenal itu, yang “menghampiri” Leluhur Perempuan (Laka Loro Kmesak), kelak lebih dijuluki dengan Gelar: Manu Aman Lakaan Na’in. Artinya Tuan dari Puncak Jago Lakaan. Karena kerahasiaan itu tetap terjaga sampai tidak disebutkan Nama, maka Laka Loro Kmesak disebut pula dengan nama Na’in Bilak An yang artinya berbuat sendiri dan menjelma sendiri.

Beberapa tahun kemudian Putri Laka Loro Kmesak berturut-turut melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putranya diberi nama masing-masing, Atok Lakaan dan Taek Lakaan. Sedangkan kedua putrinya masing-masing diberi nama : Elok Loa Lorok dan Balok Loa Lorok.

Setelah keempat putra-putri ini dewasa mereka dikawinkan oleh ibunya karena di puncak gunung tidak ada keluarga lain. Atok Lakaan kawin dengan Elok Loa Larak dan Taek Lakaan Kawin dengan Balok Loa Lorok. Kelak keturunan Manu Aman Lakaan inilah yang kelak memenuhi Tanah Belu, Timor Leste, Dawan, Rote, Sabu, Larantuka atau Lamaholot di Pulau Flores bagian Timur.”

Tidaklah heran kalau masyarakat Belu kebanyakan menganut paham matrilineal karena kisah Tuan Putri Laka Loro Kmesak ini. Walau akhirnya dalam sejarah yang panjang, anak-cucu Manu Aman Lakaan mengembangkan pula sistem patrilineal dengan mem-faen kotu seorang istri untuk dimasukkan ke rumah suku lelaki, itu merupakan pengembangan lebih lanjut atau penafsiran terhadap sistem matrilineal yang sudah ada sejak leluhur, di mana, perempuan yang di-faen-kotu, memiliki arti bahwa perempuan itu sangat tinggi harkatnya dan sangat disanjung sehingga suku suami, rela mengorbankan harta bendanya demi mendapatkan perempuan baru sebagai anggota inti rumah suku sang suami.

***

Menilik kisah leluhur dari Manu Aman Lakaan di atas, kita mengerti bahwa generasi inilah, yang merupakan penghuni asli dan pertama di pulau Timor. Karena leluhur tercinta Laka Loro Kmesak tidak berasal dari salah satu tempat lain, tetapi turun ke puncak Gunung Lakaan, maka Beliau dijuluki Turu-Monu … menetes dari atas, jatuh dari atas. Semua generasi Turu-Monu inilah yang kelak dijuluki: Fohonain, Rainain, pemilik gunung, pemilik tanah, Ainain, Fatuknain, Pemilik Pohon Besar, Pemilik Batu Besar.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika seluruh tanah Timor mulai terlihat, karena air mulai mengering, sebagian anak-anak dan cucu-cucu dari Puncak Gunung Lakaan pun mulai menyebar, tidak hanya di sekitar kaki Gunung Lakaan, namun juga sampai ke Mandeu, Naitimu, Lidak, Jenilu, Lakekun, Litamali, Alas, Biboki, Insana, Wehali, Maukatar, Lubarlau, Ramelau, Sabu, Rote bahkan Flores.

Dan kelak, ketika keturunan Manuaman Lakaan yang di tempat-tempat lain, berkembang biak, mereka mendatangi lagi Gunung Lakaan dan mereka dianggap saudara-saudari yang sudah moris kdok, tubu-kdok, wa’i kdok, bea kdok. Fila nikar Fohorai, To’o nikar Fohorai. Dan karena mereka di tempat mereka sebelumnya, mereka pun sudah tinggal menetap dan berkuasa atas tanah dan gunung yang baru, mereka seolah-olah memiliki dua kewarganegaraan, warga di tempat baru, atau pun warga di Gunung Lakaan sendiri. Maka ada istilah, Ba ne’e ba uma, mai ne’e mai uma. Artinya, ke sana pun rumah, ke sini pun rumah. Bukanlah negeri asing, dan bukanlah pendatang. Mereka inilah yang kelak dijuluki Raioan, Foho Oan. Artinya Anak-cucu dari Tanah Ini dan Anak-cucu dari Gunung ini … artinya mereka sudah pernah marantau toh kembali juga kepada haribaan Bumi Pertiwi Lakaan.

Selain itu, ada juga kelompok yang lebih jauh datangnya …. Dari Asia, dari Malaka, menyinggahi berbagai pulau, berbagai pelabuhan, namun terus mencari kalau Timorlah yang mereka cari. Pencarian akan Timor ini pun memungkinkan karena anak-cucu Manuaman Lakaan sudah tersebar luas ke mana-mana, dan mereka mengisahkan kepada orang luar bahwa Timor adalah tanah impian, negeri Putri Laka Loro Kmesak yang adalah Tuan Putri yang Sakti. Dan sebagaimana sudah disinggung di atas, kalau Sang Putri yang merupakan Leluhur Orang Timor itu, entah dengan kesaktiannya, menjumpai Sang Pangeran dari Asia atau dari mana pun? Ini juga menjadi daya pikat orang-orang yang merasa kalau ternyata Sang Putri ada ikatan juga dengan mereka. Kehadiran kelompok ini dijuluki: Dina Oan Bada Oan. Artinya Orang-orang yang tiba di Timor dari tempat jauh, mereka mungil, elok dan molek, dikasihi, dan dimanjakan. Rupanya Keturunan Asli Manuaman Lakaan berbadan tegap dan besar. Mereka yang terhitung dalam kelompok Dina Oan-Bada Oan, cantik, mungil, patut dikasihi, karena dalam misteri tertentu, leluhur mereka dan leluhur Manu Aman Lakaan Nain masih ada ikatan rahasia.

Kelompok Dina Oan – Bada Oan ini menurut para Mako’an Belu, terdiri atas empat gelombang kedatangan, masing-masing:
1. Ema Melus. Besar kemungkinan berasal dari Asia Tenggara, namun pernah lama di Melanesia (Pasifik).
2. Ema Lubu-Doha. Besar kemungkinan berasal dari dari Asia Tenggara namun pernah lama di Luwuk-Donggala (Sulawesi), melewati Larantuka dan Lamaholot.
3. Ema Luta Rato Jo Pata atau Luta Tefa, kemungkinan berasal dari India, namun pernah lama di Sumatra, melewati Sumbawa, Flores, Sumba.
4. Ema Kisar Sit, kemungkinan berasal dari Asia Tenggara, namun pernah lama menetap di Maluku.
5. Sina Mutin Malaka, kemungkinan berasal dari Cina Selatan dan Malaka.

Boleh dibilang kalau kebanyakan orang-orang Dina-Bada datang dari Asia-Pasifik, Asia Tenggara dan Selatan. Ini memang cukup beralasan, karena ras Timor memang lebih merupakan campuran antara ras Asia Tenggara, Asia Selatan dan Pasifik. Namun, untuk kebudayaan Timor, paduan antara Turu-Monu dan Kisar Sit, konon dinilai lebih dominan. Ini bisa terlihat dari relasi Tihar (gendang di Belu) dan tifa (di Maluku). Kain tenun ikat Timor dan Maluku yang sangat bermiripan. Tentu akar budaya Maluku sendiri tidak bias dilepaskan dengan akarnya yang bias saja berasal dari kebudayaan sekitar Asia Tenggara (seperti Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Malaysia) dan Asia Selatan (India).

Dalam rentang waktu yang lama, gelombang Dina Oan-Bada Oan susul-menyusul tiba di Timor. Dan begitu tiba, mereka selalu membawa peradaban baru sesuai kultur yang mereka kenal sebelumnya. Entah itu merabu, berburu, bertani, menenun, menyadap tuak, pandai besi, logam, beternak, sampai nelayan. Mereka pun memperkenalkan budaya gong (tala), tambur kecil (tihar), tambur besar (tuhun) dan seterusnya.

Selain terjadi interaksi social di antara mereka, yakni penduduk asli dan kelompok dina-bada, terjadi pula hubungan kawin-mawin yang mana kian lama, kian mengikatpadukan mereka semua, menjadi anak-anak yang bertumbuh bersama di bumi Timor, dan khususnya menjadi orang Belu.

Bahasa-bahasa yang ada di Timor, misalnya Tetun, Dawan, Sabu, Rote, Kemak dan Bunak, selain punya kesamaan atau kemiripan tertentu antarmereka (bahasa-bahasa itu), juga kalau disimak lebih jauh, tidak terlalu jauh juga relasinya dengan Bahasa-bahasa di Asia Selatan (India), dan lebih khusus lagi ada relasi lebih kuat dengan Bahasa-Bahasa Asia Tenggara seperti Bahasa Melayu, Bahasa-Bahasa Nusantara, Tagalok serta Bahasa-Bahasa Pasifik.

Menurut penelitian para ahli Bahasa, Bahasa Bunak lebih erat terkait dengan Kultur Pasifik. Bahasa Tetun lebih terkait dengan Unsur Melayu. Namun karena hidup bersama yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun, kelak, terasa bahwa antara bahasa-bahasa di Timor sendiri, telah terjadi pengaruh-mempengaruhi satu sama lain.

 

 

Awan Tag